Dukungan Pemerintah RI dalam “Menyambut Masa Emas Riset Indonesia”

Jakarta – Kementerian Keuangan baru saja menetapkan Peraturan Menteri Nomor 106/PMK.2/2016 tentang Standar Biaya Keluaran Tahun Anggaran 2017, yang didalamnya terdapat pengaturan mengenai Standar Biaya Keluaran yang berlaku untuk Sub Keluaran (Sub Output) Penelitian.

Menristekdikti Mohamad Nasir menyatakan bahwa Peraturan Menteri Keuangan (PMK) ini adalah perwujudan sinergi antar Kementerian dan Lembaga di Indonesia, dan merupakan terobosan besar yang merubah mindset penelitian dalam sistem keuangan negara, khususnya bagi dunia penelitian yang ada di lembaga penelitian kementerian/lembaga dan perguruan tinggi.

Salah satu terobosan penting dalam PMK No 106/PMK.2/2016 adalah pelaksanaan anggaran berorientasi pada keluaran hasil akhir penelitian sesuai dengan kualifikasi standar kualitas yang telah ditetapkan dalam tata cara pelaksanaan penilaian.

Standar Biaya Keluaran (SBK) untuk Sub Keluaran (Sub Output) Penelitian ini dirumuskan dengan tujuan agar standar Sub Keluaran Penelitian dan menjadi acuan bersama, untuk menghasilkan sub keluaran yang diperuntukan/berlaku dan digunakan oleh seluruh kementerian/lembaga yang melakukan kegiatan penelitian.

Menristekdikti Nasir juga  mengharapkan dengan adanya PMK ini, maka upaya-upaya pengelolaan kegiatan penelitian, dapat secara nyata meningkat hasil keluarannya.

Hal ini dikarenakan pertanggungjawaban kegiatan penelitian dan pengembangan, pengkajian teknologi dan Inovasi,  akan lebih sederhana, namun akuntabel. Sehingga kegiatan penelitian akan dapat bergairah dan menghasilkan invensi (penemuan) yang dapat dilanjutkan menjadi inovasi untuk meningkatkan daya saing bangsa.

Meskipun PMK ini mulai diberlakukan bagi Kementerian dan atau Lembaga (K/L), dan Perguruan Tinggi untuk Tahun Anggaran 2017, namun masih tetap dimungkinkan bagi K/L  yang masih menghendaki mekanisme anggaran seperti saat ini.

Menurut Menristekdikti, hal ini dilakukan agar masa transisi perpindahan akun dan mekanismenya tidak menimbulkan kegaduhan dan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) akan terus berupaya mensosialisasikannya secara intensif kepada seluruh mitra Kemristekdikti dalam setiap kesempatan dan kegiatan, termasuk mengkomunikasikannya kepada para auditor.

Menristekdikti juga menyampaikan bahwa untuk mengimplementasikan PMK No 106/PMK.2/2016,  pada saat ini Kemenristekdikti sedang menyiapkan petunjuk teknis berupa “Pedoman Pembentukan Komite Penilaian dan Tatacara Pelaksanaan Penilaian Penelitian Menggunakan Standar Biaya Keluaran Tahun 2017” untuk Sub Keluaran (Sub Output) Penelitian.

Pedoman ini diharapkan akan menjadi acuan bagi K/L dan Perguruan Tinggi (PT), serta para pelaku kegiatan penelitian dan pengembangan, dalam melaksanakan penggunaan satuan biaya untuk sub keluaran (sub-output) penelitian.

Pedoman ini juga digunakan sebagai panduan bersama bagi Kepala Satuan Kerja Pelaksana, Komite Penilai dan/atau reviewer.

Pedoman ini meliputi panduan mengenai tata cara penggunaan satuan biaya, mekanisme perolehan tambahan biaya, Komite Penilai, dan mekanisme penilaian. Karena pedoman ini akan menjadi acuan dalam penyusunan anggaran penelitian pada tahun 2017, Meristekdikti berjanji untuk dapat menyelesaikan pedoman ini dalam waktu yang tidak terlalu lama, paling lama satu bulan kedepan sudah selesai.

Melalui pengaturan mekanisme baru ini juga diharapkan dapat memberikan daya tarik dan memberi daya dorong kepada para peneliti untuk dapat mengekspresikan seluruh kemampuan yang dimilikinya dengan baik, sehingga mampu berkarya dan menghasilkan hasil riset atau inovasi yang dapat dihilirisasi atau bermanfaat bagi masyarakat. Mekanisme tersebut diharapkan mampu menjawab keresahan peneliti  selama ini, sehingga para peneliti dapat lebih fokus kepada kegiatan meneliti daripada administrasi.

Selain itu mengingat penelitian sering memerlukan waktu panjang, maka jaminan keberlanjutan riset melalui Multi Year Block Grant (MYBC) juga menjadi pre-requisit yang harus diberikan kepada para peneliti, agar mereka mampu berkarya lebih baik dan berkualitas. Di sisi yang lain, riset merupakan proses pengembangan Ilmu Pengetahuan  dan Teknologi (IPTEK), yang keberhasilan dan waktu penyelesaiannya tidak dapat dipastikan. Untuk ini, Kemristekdikti terlibat dalam proses revisi “Perpres 54 Tahun 2010”, tentang Pengadaan Barang dan Jasa, yang sekarang sedang didiskusikan.

Akhir kata, Menristekdikti menyampaikan bahwa hasil riset mempunyai peranan yang penting dan strategis dalam menentukan keunggulan kompetitif dan pertumbuhan ekonomi suatu bangsa, sehingga hampir tidak ada negara di dunia ini yang mempunyai daya saing dan pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa memberikan perhatian yang serius terhadap dunia riset, pengembangan teknologi dan Inovasi, guna meningkatkan kualitas hidup dan mensejahterakan bangsa.

PMK No 106/PMK.2/2016 ini adalah tahapan awal dari paket “Reformasi Pendidikan Tinggi dan Kebangkitan Riset, Teknologi serta Inovasi” di Indonesia. Dalam waktu dekat akan segera dikeluarkan kebijakan-kebijakan Ristekdikti lainnya.

Saatnya peneliti Indonesia bangkit dan fokus untuk menunjukkan karyanya bagi Indonesia ke depan. SDMnya ditingkatkan kapasitasnya, alat risetnya dibantu, regulasinya diperbaiki, lembaga pendukung pendanaan terus didorong.

Ayo bangkit para Peneliti dan Inovator Indonesia, singsingkan lengan baju untuk maju dan mandiri, menyambut masa emas riset, teknologi dan Inovasi di Indonesia.


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Kemenristekdikti Dukung Pengembangan Kereta Cepat

Jakarta – Dalam rangka mendukung program pembangunan infrastruktur industri kereta cepat serta memperkuat struktur industri nasional, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), dan Indonesia Railway Manufacturer Association (IRMA) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) tentang Percepatan Pelaksanaan Proyek Strategis Kereta Cepat pada Selasa (27/7) pagi di Gedung II BPPT, Thamrin Jakarta.

Penandatanganan MoU ini disaksikan oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, Menteri BUMN Rini Sumarmo, Menteri Perindustrian Saleh Husin, serta perwakilan Kementerian Perhubungan.

Bentuk kerjasama ini meliputi penelitian dan pengembangan teknologi, pendidikan dan pelatihan, pemanfaatan dan penerapan hasil-hasil kerekayasaan yang telah ada, pemanfaatan sarana dan prasarana, serta bantuan teknis sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Adapun yang menjadi maksud dan tujuan kesepahaman ini adalah pihak-pihak sesuai dengan proporsi dan wewenang serta kompetensi masing-masing berkeinginan mendukung percepatan dan pelaksanaan proyek strategis nasional, khususnya percepatan penyelenggaran prasarana dan sarana kereta cepat antara Jakarta dan Bandung seperti yang tertuang pada Perpres RI No. 107 Tahun 2015,” ujar Kepala BPPT Unggul Priyanto pada kesempatannya.

Selanjutnya Nasir mengatakan “Ini adalah satu usaha konkret untuk mencapai tujuan transportasi Indonesia yang semakin baik dan semakin cepat. Maka, Kemenristekdikti sangat mendukung dalam hal kajian riset dan penguatan sumber daya,” kala memberikan sambutannya.

Nasir menilai bahwa program percepatan proyek strategis kereta cepat ini merupakan suatu usaha untuk memenuhi public goods yang berkiblat pada aspek service atau layanan yang maksimal kepada masyarakat. Kemenristekdikti juga berkomitmen untuk meningkatkan kualitas sumber daya, baik dibidang riset maupun di bidang penguatan-penguatan teknologi lainnya.

Kerjasama ini diharapkan dapat menjadi batu loncatan untuk mempercepat proses alih teknologi pada proyek kereta cepat Jakarta-Bandung demi mendorong kemajuan pembangunan sistem transportasi kereta api yang tangguh di Indonesia.

“Mudah-mudahan dalam waktu dekat, kereta cepat ini dapat segera terealisasikan dan mampu mengurai kemacetan di Jakarta,” tutup Nasir.


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Ratusan Mahasiswa Pontianak Hadiri Seminar Perkembangan Ekonomi

Sekitar 400 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kalbar menghadiri seminar perkembangan ekonomi Indonesia yang digelar Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Kalimantan Barat dan Politeknik Negeri Pontianak.  Seminar ini dalam rangka memberikan informasi terkini tentang perekonomian Indonesia yang disampaikan oleh BI pusat,” ujar KPw BI Kalbar, Dwi Suslamanto, di Pontianak, Senin. Dikatakan Dwi, selain seminar juga diikuti dengan peluncuran BI Corner di Politeknik Negeri Pontianak dan SMAN 1 Pontianak.

Sebelumnya di Kalbar BI Corner sudah ada di Universitas Tanjungpura dan IAIN Pontianak. Untuk dua BI Corner yang diresmikan ini merupakan ketiga dan keempat di Kalbar,” katanya. Terkait perkembangan ekonomi di Kalbar saat ini kata Dwi sudah terus membaik meskipun masih terpengaruh dari lesunya pertumbuhan ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi kita tidak terlepas dari dunia global terutama soal ekspor. Negara yang masih dominan berkaitan ekspor kita yakni Tiongkok dan Jepang. Kedua negara tersebut pertumbuhan ekonominya lesu sehingga juga berdampak pada Kalbar, katanya.

Menurutnya di Kalbar masih memiliki dua kendala yakni soal masih kurangnya efisiensi dan rendahnya produktivitas. Terkait tidak efisiensi kita lihat biaya logistik kita tinggi dan konektivitas kita antar daerah masih rendah, kata dia. Sementara itu, Pembantu I Direktur Politeknik Pontianak, Arianto, SE, MM mengapresiasi kepada BI yang telah menghadirkan BI Corner di kampusnya. Terima kasih BI dan saya mengajak mahasiswa untuk memanfaatkan fasilitas yang ada, kata dia. (erwandi/humas)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Unibos Diharapkan Cetak Dokter Berkualitas

Universitas Bosowa (Unibos) merupakan sebuah Perguruan Tinggi di bawah naungan Yayasan Aksa Mahmud yang pada saat ini membuka program studi baru yaitu prodi pendidikan dokter. Hal tersebut berdasarkan izin yang telah diterima Universitas Bosowa dari Menristekdikti dalam SK 95/KTP/I/2016 mengenai pembukaan program studi Pendidikan dokter (Program Sarjana) dan Program Studi Profesi dokter (Program Profesi).

Perencanaan pembangunan gedung Fakultas Kedokteran (FK) dan pembukaan Prodi Kedokteran Unibos ini memang sudah lama ditargetkan sejak dulu oleh pihak manajemen dengan sasaran bahwa Unibos dapat menghasilkan dokter- dokter unggul. Tahap pembenahan kini sedang dilakukan oleh pihak manajemen Universitas Bosowa, bukan hanya dalam penambahan Program Studi baru tetapi juga dalam hal Akreditasi Universitas dan Akreditasi setiap Prodi yang berada di bawah naungan Unibos. Dan saat ini Unibos telah mendapatkan Akreditasi B dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT)

“Universitas Bosowa mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh untuk menyiapkan infrastruktur yang lebih baik lagi,” ucap Rektor Unibos Saleh Pallum dalam acara launching prodi baru Unibos, sekaligus meresmikan gedung perkuliahan FK Universitas Bosowa di Gedung Balai Sidang 45, Makassar, Senin (25/7).

Penandatanganan prasasti dilakukan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi oleh Menristekdikti Mohamad Nasir, Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo, serta Rektor dan pembina Yayasan, Aksa Mahmud, yang juga sekaligus menyaksikan prosesi MoU Tridharma Perguruan Tinggi antara Universitas Bosowa yang diwakili oleh Rektor Unibos Saleh Pallum dengan Universitas Airlangga yang diwakili oleh Wakil Rekor I Universitas Airlangga Djoko Santoso.

Menristekdikti menyambut baik dan mengucapkan selamat atas launching gedung FK Unibos. Dalam sambutannya, Nasir menyampaikan bahwa proses pembelajaran serta peningkatan kualitas Pendidikan Tinggi adalah hal yang sangat penting, khususnya untuk Pendidikan Kedokteran. Rencana strategis yang ada di Kemristekdikti di tahun 2015 sampai 2019 mengedepankan pada penguatan mutu kualitas, dimana dalam indikator utama terkait dengan peningkatan mutu Pendidikan Tinggi, harus dicapai bersama-sama, yaitu mengenai Akreditasi.

Kemristekdikti melakukan pendampingan terhadap Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang didorong untuk menjadi Perguruan Tinggi Akreditasi A. Karena dengan Akreditasi A Perguruan Tinggi mampu bersaing dimasa yang akan datang.

Selain itu Nasir menyampaikan apresiasi yang sangat tinggi kepada universitas Airlangga serta dukungan dari para stakeholder dalam kerjasama ini yang diharapkan kedepannya bisa menghasilkan lulusan yang bermutu dan berkualitas.

“Saya mendorong Perguruan Tinggi untuk dapat melakukan research yang menghasilkan inovasi kedepannya, khususnya dalam bidang Kedokteran,” ucap Nasir.

Nasir berharap dengan adanya Fakultas Kedokteran di Unibos secara integrated, berdampak positif, serta membantu membangun upaya Pemerintah dalam melaksanakan semua proses pendidikan dengan baik, dan menghasilkan dokter- dokter yang berkualitas untuk masa depan yang lebih baik. (wd/bkkp)

 

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Keterbatasan Ekonomi Bukan Penghalang

Semangat untuk memperoleh pendidikan terbaik serta dukungan dari sang guru memberanikan Ridha Wahyuningtias untuk mendaftarkan diri pada seleksi penerimaan mahasiswa UGM, terlepas dari kekhawatiran orang tuanya yang tak sanggup membayar biaya kuliah. Tidak disangka, ia ternyata berhasil diterima sebagai mahasiswa di Fakultas Kedokteran UGM tanpa harus membayar biaya kuliah.

Bagi Tias, begitu ia biasa dipanggil, belajar ilmu kesehatan memang sudah menjadi impiannya. Ketika duduk di bangku sekolah, ia aktif mengikuti kegiatan pramuka, dan banyak terlibat dalam penanganan keadaan medis darurat.

“Dari dulu sering ikut kegiatan pramuka, sempat belajar tentang pertolongan medis juga, lalu jadi tertarik dengan ilmu kesehatan dan ingin jadi perawat,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Sebelum mendaftar untuk Program Studi S1 Ilmu Keperawatan, ia sempat mencari tahu perguruan tinggi yang memiliki program studi yang berkualitas di bidang kesehatan, dan pilihannya pun jatuh pada UGM. Namun, saat itu, ia belum berani membayangkan akan berkuliah di UGM, karena ia tahu bahwa keadaan ekonomi keluarganya sangat terbatas dan orang tuanya tidak akan mampu membiayai kuliahnya di UGM, hingga salah satu guru di sekolahnya memberi informasi tentang beasiswa Bidik Misi.

“Katanya disuruh daftar saja dulu, kalo untuk masalah biaya ada banyak jalan. Bisa cari beasiswa untuk kuliahnya,” ujar Tias saat ditemui di kediamannya di kawasan pinggiran Kota Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (20/7).

Ketika memutuskan untuk mendaftar, ia memang sengaja tidak langsung memberitahukan kedua orang tuanya, karena ia takut orang tuanya akan melarang. Kedua kakaknya yang melanjutkan pendidikan tinggi di Pontianak, sebelumnya memang sempat diterima di beberapa perguruan tinggi bergengsi di Pulau Jawa. Namun, kedua orang tua mereka tidak merestui mereka untuk merantau ke luar kota.

“Saya hanya khawatir, kalau kuliah jauh-jauh, nanti bayar kuliahnya gimana, biaya hidup gimana, mereka tinggal di mana, kalau kos pasti banyak mengeluarkan biaya. Jadi saya bilang kuliahnya di sini aja, biar tidak susah, tinggal mencari cara untuk membantu biaya kuliah,” ucap Sri Rosmiati.

Orang tua Tias sehari-hari mencari nafkah dengan berjualan minuman es tebu. Sejak tahun 1992, Jumadi, ayahnya yang beberapa tahun sebelumnya merantau dari Blora, Jawa Timur, telah berjualan es tebu di Alun-Alun Kapuas yang menjadi salah satu objek wisata dan pusat keramaian Kota Pontianak. Pemasukan yang ia peroleh dari berjualan selama beberapa jam mulai pukul 3 sore hingga malam hari pun cukup untuk menghidupi istri dan keempat anaknya. Namun, setahun belakangan, penghasilannya menurun drastis semenjak ia dilarang berjualan di Alun-Alun.

“Sekarang saya hanya bisa berjualan di depan gang, berjemur dari pagi sampai sore di pinggir jalan. Tapi pendapatannya ya memang jauh lebih sedikit,” ujarnya.

Kini, setiap pagi ia harus mengangkut batang-batang tebu dan mendorong gerobak yang ia buat sendiri ke tepi jalan Komodor Yos Sudarso yang tidak begitu jauh dari rumahnya. Jalan ini terbilang tidak terlalu ramai karena tidak banyak dilalui kendaraan dan bukan terletak di kawasan padat penduduk. Ia hanya berharap memperoleh pemasukan dari beberapa pelanggan tetap serta pengunjung rumah sakit daerah dan SPBU yang letaknya berdekatan dengan lokasi ia berjualan.

Meski hidup dalam keadaan terbatas, namun bagi kedua orang tua Tias, pendidikan bagi anak-anak mereka memang selalu menjadi hal yang diutamakan. Terbukti, mereka berhasil menyekolahkan kedua anaknya yang lebih tua hingga ke jenjang perguruan tinggi. Ia pun bersyukur karena anak-anaknya juga menunjukkan niat dan semangat yang tinggi dalam menuntut ilmu, bahkan hingga meraih berbagai prestasi dan memperoleh beasiswa.

“Kalau untuk kebutuhan lain, itu bisa dihemat-hemat. Yang penting anak-anak saya bisa sekolah,” imbuhnya.

Karena itu, mereka pun akhirnya melepas kepergian Tias untuk kuliah di UGM. Beasiswa Bidik Misi yang ia terima, serta dukungan dari beberapa kakak tingkat Tias yang sudah berkuliah di Jogja meyakinkannya bahwa Tias dapat menjalani kuliahnya dengan baik. Ia pun mendoakan, agar di UGM Tias dapat menuntut ilmu dengan baik, memperoleh apa yang ia cita-citakan, serta nantinya dapat menggunakan ilmunya untuk kebaikan banyak orang. (Humas UGM/Gloria)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

« Older Entries