Menristekdikti Serahkan Penghargaan kepada Mahasiswa Berprestasi Penerima Bidikmisi

Majene- Senin (22/8), Menristekdikti beserta jajaran menghadiri Rapat Senat Terbuka Luar Biasa Penerimaan Mahasiswa Baru Universitas Sulawesi Barat Tahun Akademik 2016/2017, bertempat di Masjid Ilaikal Mashir yang dihadiri sekitar 1.856 Mahasiswa.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Nasir juga menyerahkan beasiswa dan penghargaan untuk Mahasiswa Bidikmisi berprestasi Unsulbar. Ada 10 Mahasiswa yang diberikan beasiswa Bidikmisi pada tahun ajaran baru, dan 2 Mahasiswa Bidikmisi berprestasi dengan IPK tertinggi setelah melalui hasil seleksi dan penilaian. Mahasiswa berprestasi penerima bidikmisi ini di berikan kepada Nur Aisyah Usman Mahasiswa Agribisnis dengan nilai IPK tertinggi 3,98 dan Nadria Nabir Mahasiswa Kehutanan dengan nilai IPK 3,97. Penyerahan tersebut di serahkan langsung oleh Menristekdikti Mohamad Nasir dan Wakil Gubernur Sulawesi Barat Aladin S Mengga.

“Tidak perlu minder dan berkecil hati karena ketidakmampuan secara ekonomi. Pemerintah akan menyiapkan semua biaya untuk keberhasilan studi Anda lewat bidikmisi ini, Anda hanya tinggal fokus belajar dan perdalam ilmu kalian,” kata Nasir didepan ribuan Mahasiswa Baru Unsulbar.

Selain menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan ini, beliau juga menyampaikan hal-hal yang menyangkut Beasiswa Bidikmisi, menurutnya bahwa kuota Bidikmisi Unsulbar pada tahun ini mencapai 30 persen dari total jumlah keseluruhan Mahasiswa Unsulbar.

Sejak diluncurkan pada 2010, Bidikmisi telah membantu perkuliahan jutaan Mahasiswa Indonesia. Beasiswa Bidikmisi merupakan bantuan biaya pendidikan yang diberikan oleh Kemenristekdikti bagi siswa yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang Perguruan Tinggi. (ard)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

ITB-CEO Summit on Innovation 2016 : Riset dan Inovasi Jadi Kunci Kesejahteraan Nasional

BANDUNG – Pengembangan ekosistem inovasi sangat diperlukan untuk meningkatkan kontribusi industri terhadap perekonomian dan meningkatkan kualitas hidup bangsa. Inovasi merupakan faktor penggerak dari perekonomian bangsa yang sangat penting untuk memberikan nilai tambah produk dan jasa. Pengembangan ekosistem inovasi merupakan tahapan yang harus dilakukan untuk memberikan ruang bagi kerjasama dan kolaborasi perguruan tinggi dan industri dengan didukung program-program pemerintah.

Institut Teknologi Bandung (ITB) telah banyak melahirkan inovasi yang memiliki kontribusi dalam pembangunan. Demi mewujudkan Tri-Dharma Perguruan Tinggi, perlu diadakan sebuah kegiatan kolaborasi (co-creation) antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah untuk menghasilkan suatu karya inovatif. Oleh karena itu, ITB menyelenggarakan acara “ITB-CEO Summit on Innovation, University-Industry-Government Collaboration” pada Senin (22/8) yang bertempat di Aula Barat dan Aula Timur ITB sebagai mediasi dan koordinasi dalam rangka penguatan dan pengembangan inovasi yang memberi manfaat langsung dan dampak yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat, bangsa, dan negara.

Acara dibuka dengan sambutan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Inovasi dan Kewirausahaan (LPIK) Institut Teknologi Bandung Suhono Harso Supangkat. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Jenderal Penguatan Inovasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Jumain Appe, serta Deputi Bidang Usaha Energi, Logistik, Kawasan, dan Pariwisata Kementerian BUMN RI Edwin Hidayat Abdullah.

Adapun bidang-bidang yang menjadi fokus dan prioritas pengembangan inovasi dalam acara ini terbagi dalam lima cluster, yaitu pertama, Energi dan Lingkungan; kedua, Pangan, Kesehatan, dan Obat-Obatan; ketiga, Transportasi dan Infrastruktur; dan keempat, Teknologi Informasi dan Komunikasi (ICT), Industri Kreatif dan Jasa, serta kelima, Strategi Inovasi untuk Industri.

Dorong Pengembangan Riset dan Inovasi

Dirjen Penguatan Inovasi Kemenristekdikti Jumain Appe mengatakan bahwa pemerintah akan terus mendorong pengembangan riset dan inovasi yang dilakukan sejumlah pihak untuk kemajuan bangsa dan negara. Jumain juga mengajak para CEO dan komunitas IPTEK serta aktor-aktor inovasi yang berasal dari perguruan tinggi, industri, lembaga litbang, dan pemerintah untuk bersinergi. Seluruh komponen harus bahu-membahu mendorong penguasaan dan pemanfaatan hasil riset menjadi produk inovatif.

Ia berpendapat perguruan tinggi dan industri harus bekerjasama menjadi basis produksi produk-produk manufaktur. Caranya dengan meningkatkan kandungan lokal dalam negeri serta pemerintah akan melakukan deregulasi agar akselerasi dan determinasi membangun kemandirian bangsa dapat diwujudkan.

“Pemerintah akan membantu menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuh-kembangnya budaya iptek dan inovasi di tengah masyarakat. Perguruan tinggi dan industri tidak boleh jalan sendiri-sendiri. Kolaborasi mesti dibangun untuk mendorong penciptaan, penguasaan, hilirisasi, dan komersialisasi produk-produk iptek sebagai penggerak utama produktivitas, kemandirian, dan daya saing bangsa,” kata Jumain.

Pada kesempatan yang sama, LPIK ITB turut memamerkan produk inovasi unggulan yang merupakan proses inovasi dari peneliti-peneliti ITB dengan harapan memberikan inspirasi kerjasama industri dan perguruan tinggi. Beberapa produk inovasi diantaranya adalah Mobil Listrik ITB, Tesla Daya Elektrika, Kinetik (lutut palsu), Sistem Fotonik Batik, Pengontrol Variabel Speed Drive, hingga Panel Surya Dye-Sensitized Solar Cells.

Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong upaya peningkatan peran inovasi Indonesia untuk industri dalam negeri, memberikan sumbangan pemikiran kepada pemangku kepentingan untuk pembangunan industri nasional serta meningkatkan jejaring inovasi nasional. (dzi/eva)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Menristekdikti Tinjau Pembangunan Kampus Baru Unsulbar di Majene

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir melakukan peninjauan kampus baru Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) di Kecamatan Banggae Timur, Majene, Sulawesi Barat, Minggu (21/8). Kedatangan Menristekdikti yang didampingi Dirjen Sumberdaya Iptek Dikti Ali Ghufron Mukti, dan Direktur Kemahasiswaan dan Penyiapan Karir Didin Wahidin, disambut oleh Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Aladin S. Mengga, Rektor Unsulbar Akhsan Djalaluddin, Bupati Majene Fahmi Massiara dan para pejabat daerah lainnya.

Setibanya di Rumah Jabatan Bupati Majene, rombongan Menristekdikti disambut dengan tarian tradisional Majene. Pada acara penyambutan ini, Menteri Nasir beserta jajaran didaulat menunggangi kuda.

Dalam kunjungan tersebut Menristekdikti beserta jajaran meninjau kondisi kampus baru Unsulbar, fasilitas Laboratorium dan Rumah Susun Sewa (Rusunawa) yang berada di daerah perbukitan Padha-Padhang, Kelurahan Tande, Kecamatan Banggae Timur.

Bangunan kampus baru Unsulbar yang ditinjau Menristekdikti menempati lahan sekitar 30 hektar. Namun bentuk bangunan kampus masih belum selesai, sehingga belum dapat difungsikan untuk kegiatan perkuliahan. Selain meninjau kampus baru, Menristekikti juga meninjau laboratorium teknologi informasi Unsulbar. Laboratorium teknologi informasi ini terbilang maju karena dilengkapi dengan jaringan listrik bertenaga matahari, serta fasilitas konferensi jarak jauh.

“Saya sangat mengapresiasi terutama laboratorium komputernya sudah baik, saya bisa katakan laboratorium di Unsulbar ini adalah smart laboratory. Ruang lab ini sudah menggunakan konsep green economy dan green energy dengan sumber listrik Solar Cell. Perawatannya juga hal yang harus diperhatikan karena itu penting,” imbuh Nasir.

Menteri Nasir juga menambahkan di era kompetisi ini harus ada lulusan-lulusan dari Perguruan Tinggi yang berkualitas yang mampu bersaing agar tidak memunculkan pengangguran baru pada nantinya.

Sejalan dengan itu Rektor Unsulbar, Akhsan Djalaluddin mengaku sangat senang dengan kedatangan Menristekdikti yang langsung meninjau seluruh fasilitas di kampus baru Unsulbar.

“Di kampus baru ini, Menteri sudah melakukan uji coba video conference untuk kuliah jarak jauh. Ini untuk menunjukkan ke Pemerintah Pusat bahwa kuliah jarak jauh melalui internet sudah bisa kita lakukan di Unsulbar. Kita patut bergembira, karena dari sekian banyak Perguruan Tinggi Negeri baru, Unsulbar termasuk yang diperhatikan Pemerintah Pusat salah satunya dengan kunjungan Menteri kali ini,” jelasnya.

Usai peninjauan lapangan, Menristekdikti menghadiri acara ramah tamah di rumah dinas Bupati Majene dan dijamu dengan aneka kesenian tradisional Majene. (ard/sut)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Menristekdikti Uji Coba Kapal Pelat Datar

TANGERANG- Inovasi teknologi hasil karya anak bangsa kembali lahir dengan munculnya kapal pelat datar. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir telah mengikuti uji coba kapal tersebut dengan melakukan perjalanan dari Teluk Naga Tangerang sampai Pulau Untung Jawa, Sabtu (20/8).

Kapal pelat datar adalah teknologi kapal inovatif yang menggunakan baja sebagai material utama. Kemudian, konstruksi kapal ini dibangun dengan pelat-pelat baja datar yang tidak melewati proses pelengkungan pelat. Teknologi ini mengasilkan produk yang lebih cepat pembuatannya dan lebih ekonomis.

“Hasilnya itu ternyata jauh lebih murah, kecepatan lebih tinggi, cara prosesnya lebih cepat, dan umur ekonomisnya lebih lama,” kata Nasir.

Kapal yang berbahan baku lokal ini memiliki kapasitas 3 Gross Tonage (GT) dan bermesin 170 PK yang saat diuji memiliki kecepatan 240 knot atau setara dengan kapal 350 PK. Penggunaan konsep “W” kapal pelat datar membuat laju kapal semakin cepat sehingga penghematan terhadap bahan bakar juga semakin tinggi.

“Teknologi ini lah yang patut diapresiasi kepada para peneliti dari Universitas Indonesia melalui PT. Juragan Kapal binaan dari Kemristekdikti,” lanjutnya.

PT. Juragan Kapal yang merupakan pembuat kapal pelat datar ini ingin mengatasi persoalan tingginya kebutuhan kapal di Indonesia dan ingin mejadi solusi ketergantungan akan kapal kayu. Material baja yang digunakan juga memungkinkan nelayan-nelayan Indoneisa bisa melaut lebih jauh dengan ukuran kapal yang lebih besar.

“Tugas Kemristekdikti adalah untuk mensosialisasikan kapal pelat datar ke seluruh Indonesia melalui Menteri- Menteri lain. Kemudian, untuk sertifikasi akan kami biayai sertifikasinya,” lanjut Nasir.

Konsep “semi- trimaran” yang digunakan pada kapal pelat datar ini belum dikembangkan oleh ahli perkapalan di mana pun di dunia sehingga diharapkan dapat menjadi identitas kapal Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia. Target yang diharapkan yaitu tahun 2017 kapal ini harus masuk produksi massal. Pembuatan kapal yang hanya memerlukan waktu satu bulan juga menjadi kelebihan kapal pelat datar.

Menteri Nasir pada kesempatan tersebut juga mengatakan, riset kapal ini akan didanai melalu Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi dan juga selalu dilakukan pendampingan agar inovasi ini menjadi manfaat bagi masyarakat Indonesia khususnya nelayan. (Dzi/lry)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Perkuat Profesi Insinyur, Menristekdikti Tanda Tangani MoU dengan MenPUPera

JAKARTA – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir bersama dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (MenPUPera), Basuki Hadimuljono menandatangani nota kesepahaman tentang profesi insinyur di KemenPUPera, Jumat (9/8).

Nota kesepahaman ini sesuai dengan amanat Undang- Undang No. 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran. Program profesi insinyur ditujukan kepada semua Sarjana Teknik di Indonesia.

“Kami sudah siapkan dan berikan mandat kepada 40 Perguruan Tinggi baik PTN dan PTS untuk membuka program profesi insinyur,” ujar Nasir.

Nota kesepahaman ini adalah bentuk kerjasama di bidang keinsinyuran infrastruktur sebagai wahana berlatih bagi para insinyur. “Kami siapkan tenaga profesional tapi harus bekerjasama juga dengan user. User ini tempatnya ada di Kementrian PU-Pera terkait dengan infrastruktur,” lanjutnya.

Program tersebut hadir karena sedikitnya jumlah insinyur di Indonesia yang profesional di bidangnya. Tiap tahun hanya ada 10-12 ribu Sarjana Teknik yang memiliki kemampuan dan kompetensi dibidang masing-masing, hal ini sangatlah kurang.

Nasir mengatakan, program profesi insinyur ini terdiri dari 24 SKS yang akan ditempuh sekitar satu sampai satu setengah tahun. Persiapan ini juga dilakukan untuk meningkatkan keahlian Sarjana Teknik untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) per 31 Desember 2016 nanti.

“Inilah yang kami dorong supaya sumber daya Indonesia mampu bersaing di kelas regional dan internasional, karena sebentar lagi sudah memasuki MEA,” tutur Nasir.

Harapannya dalam profesi insinyur akan menghasilkan orang-orang yang profesional dibidangnya. Kebutuhan insinyur juga tidak hanya dibidang infrastruktur tetapi juga kemaritiman dan energi. Maka dari itu, Kemenristekdikti akan memperluas kerjasama dengan Kementerian ESDM dan Kementerian KKP untuk kebutuhan insinyur profesional di bidang energi maupun kemaritiman. (Dzi/lry)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

« Older Entries