Indonesia-Belanda Tingkatkan Kerja Sama Pendidikan Tinggi dan Sains

Jakarta – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menjadi Chief of Guest pada Resepsi Hari Nasional King’s Day Belanda. Duta Besar Belanda untuk Indonesia, Rob Swartbol, menyambut hangat Menristekdikti di ballroom Hotel Raffles, Jakarta (28/4).

Pada resepsi King’s Day kemarin malam, Menristekdikti memberikan pidato singkat mengenai peningkatan hubungan bilateral Indonesia dan Belanda di berbagai bidang. Nasir menggarisbawahi kunjungan Presiden RI, Joko Widodo ke Belanda minggu lalu, tidak hanya merupakan kunjungan pertama Presiden Indonesia ke Belanda selama 16 tahun, tetapi juga menunjukkan dengan jelas komitmen kuat Indonesia untuk terus mengembangkan hubungan bilateral yang lebih erat dan kolaborasi yang lebih kuat pada bidang yang lebih luas. Peningkatkan hubungan bilateral diantara kedua negara juga ditandai dengan ditandatanganinya Memorandum of Understanding on Higher Education and Science pada kunjungan Presiden RI tersebut.

Menristekdikti berharap agar MoU tersebut dapat segera diimplementasikan untuk hubungan kerja sama yang komprehensif di antara kedua negara. Beliau yakin bahwa kemitraan komprehensif antara Indonesia dan Belanda akan terus berkembang, baik secara bilateral, regional maupun global untuk masa depan yang lebih baik. (wsn/bkskp)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Urgensi Penelitian dan Pengembangan Teknologi di Bidang Smart City

Seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, beberapa tahun terakhir Smart City semakin kencang dibicarakan dan diyakini akan menjadi salah satu solusi dari berbagai masalah yang timbul dari kemajuan dan dinamika kota yang semakin maju dan modern.

Kenapa Smart City?

Smart City diharapkan mampu menjawab minimal 3 (tiga) hal penting dari sebuah kota, yaitu : (a) mengetahui (sensing) keadaan kota, (b) memahami (understanding) keadaan kota lebih jauh, dan (c) dapat melakukan aksi (acting) terhadap permasalahan timbul.

Membuat kota menjadi Smart City bertujuan untuk meningkatkan rasa aman dan nyaman bagi warganya, membuat kota semakin efektif dan efisien serta meningkatkan daya saing dan pertumbuhan ekonomi serta pemerataan penghasilan. Beberapa dimensi yang harus dipenuhi dalam sebuah Smart City adalah (a) Dimensi Sosial, (b) Dimensi Ekonomi, (c) Dimensi Kemananan dan (d) Dimensi Lingkungan. Hampir semua sektor strategis  seperti energi, industri, lingkungan hidup, pariwisata, kepemerintahan, pendidikan serta perdagangan menjadi variable utama dalam membangun Smart City. Sedangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berperan dalam Smart City adalah teknologi informasi dan komunikasi, transportasi, teknologi proses dan manufaktur, control system dan sebagainya.

Produk teknologi yang dapat mendorong terwujudnya Smart City diantaranya adalah : bahan bakar hemat anergi dan rendah polusi seperti solarcell,  e-gov, e-banking, easyPay, e-procurement, Internet, remote sensing, Near Field Communication (NFC) termasuk peralatan transportasi berbasis listrik.

Lantas pertanyaan berikutnya : kapan  Smart City perlu hadir di sebuah kota?

Melihat infrastruktur yang dimiliki, beberapa kota besar di Indonesia yang diprediksi dalam waktu dekat menerapkan konsep “Smart City” adalah Bandung, Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Semarang serta kota-kota lain yang telah memiliki infrastruktur ICT sebagai unggulan daerah. Konsep Smart City ini merupakan suatu cara penggunaan teknologi “infus” ketika suatu kawasan atau daerah  membutuhkan sebuah informasi yang sangat cepat, murah dan efisien. Penggunaan Smart City atau kota pintar ini disesuaikan dengan kebutuhan, misalnya di kota industri Smart City seperti apa yang dibangun jika basis di kota industri, berbeda dengan Smart City yang basis kotanya pertanian atau pelajar. Jadi, Smart City harusnya dibangun secara spesifik, karena dengan  teknologi informasi terpilih, maka setiap warga kota bisa melakukan apa saja sesuai kebutuhan.

Manfaat Smart City?

Dalam Smart City, teknologi informasi secara komprehensif  bisa diintegrasikan dan dikemas secara menyatu dan holistik. Masyarakat bisa mengakses sebuah informasi dimana, kemana dan  saja yang mereka perlukan. Manfaat dari teknologi informasi Smart City ini bisa didisain sendiri oleh pakar ICT di kota itu, sehingga dapat mengurangi penggunaan teknologi dari luar negeri. Sehingga produk-produk dan informasi dari luar negeri bisa dipilah dan dipilih serta diakses oleh manajemen Smart City secara mandiri, bahkan masyarakat tidak lagi menjadi penonton tetapi sebagai pelaku dan pengelola perkembangan teknologi yang semakin cepat ini. Bahkan, system dapat dibangun dengan menu tertentu oleh peneliti dalam negeri, sehingga jaminan akan keamanan informasi dapat diandalkan.

Benar yang dikatakan Emha Ainun Najib (Budayawan) “Seperti kita punya rumah, kemudian ada tamu datang, tamu yang datang itu lebih pintar dari kita, lebih ramah, lebih hebat dari kita, sehingga dia ngajarin kita untuk bersih-bersih rumah sehingga rapi,  ngajarin kita berbenah diri sehingga rumah kita menjadi nyaman, akhirnya kita terkesima oleh cara kerjanya, kita hanya menjadi penonton di rumah kita sendiri. Kita terkesima karena rumah kita menjadi rapi dan sangat menarik dan nyaman. Singkat cerita, tidak terasa, kita terpinggirkan kita hanya tinggal dipojokan rumah kita, dan dia menjadi kepala rumah tangga di rumah kita”. Akankah cerita itu terjadi di negara kita tercinta? Semua tergantung warga bangsa, generasi pejuang, generasi penerus cita-cita luhur Indonesia.

Seberapa jauh masyarakat dapat menikmati kecanggihan Smart City di Indonesia?? Jawabnya adalah sejauh mana kita bisa sinergi dan kolaborasi dalam sebuah konsorsium ICT yang kuat, sebagai penggerak mewujudkan Smart City di Indonesia.

Apa yang seharusnya dilakukan oleh  lembaga litbang dan perguruan tinggi?

Universitas, dan lembaga litbang, industri dan pemerintah berperan penting dalam mengembangkan teknologi informasi untuk membuat suatu perangkat  aplikasi yang diimplementasikan di Smart City.

Smart City menjadi data dan informasi yang dimiliki oleh masyarakat, data yang dimiliki harus dijamin aman. Data-data strategis harus dapat terlindungi, tapi data yang perlu diinformasikan kepada public harus dapat diinformasikan secara terang benderang. Maka penelitian dan pengembangan teknologi dibidang Smart City ini harus dilakukan secara bersama-sama. Harus ada kemandirian keberpihakan pemerintah bahwa Smart City ini menjadi alat sehingga masyarakat menjadi pelaku pembangunan, jangan sampai kita menjadi penonton dari teknologi yang datang dari luar. Jika demikan, maka terdapat peluang yang besar untuk kemajuan dan daya saing bangsa melalui pembangunan  Smart City. Strategi yang dibuat adalah membuat roadmap Smart City secara berkelanjutan.

Kemampuan membangun Smart City tergantung dari Sumber daya manusia, sehingga perlu ditingkatkan, kemudian system dan manajemen inovasi juga perlu ditingkatkan, sehingga Smart City menggunakan system yang efektif dan efisien, Inovasi Iptek kedepan selalu menciptakan sebuah aplikasi baru sesuai perkembangan zaman,  dimana masyarakat bisa menggunakannya dengan mudah dan sederhana.

Beranikah kita membangun Smart City? Jawabnya adalah siapa takut dan kenapa tidak berani?

Karena Smart City merupakan peluang, tetapi tantangan juga harus siap diantisipasi oleh masyarakat terutama membanjirnya teknologi komunikasi dan informasi dari luar yang begitu pesat. Dengan itu kita harus tingkatkan sumber daya manusianya, kelembagaan dan jejaring, sehingga Perkembangan ekonomi di Indonesia diprediksi mampu  menjadi penggerak ekonomi Asean. Maka kesempatan Indonesia seharusnya mampu menjadi pelaku pembangunan bukan objek pembangunan dari negara lain di era globalisasi ini.

Tidak menutup kemungkinan pemerintah daerah akan bekerja sama dengan Universitas dan Lembaga litbang untuk menfaatkan teknologi informasi untuk membangun Smart City di kota dan daerahnya masing-masing.

DR. Ir.Agus Puji Prasetyono, M.Eng
Staf Ahli Menteri Bidang Relevansi Dan Produktivitas, Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi.


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Busato: Inovasi Baru Ketahanan Pangan Menggunakan Ozon

Kesehatan dan ketahanan pangan menjadi permasalahan yang selalu menjadi tantangan bagi setiap pemerintahan Indonesia, hal ini tentu penting untuk diperhatikan karena salah satu indikator kesejahteraan suatu bangsa yaitu terpenuhinya kebutuhan pangan yang sehat dan aman bagi warga negaranya. Semangat berkontribusi bagi bangsa membawa 5 mahasiwa Teknik Kimia Universitas Diponegoro menciptakan prototype alat penyimpanan buah dan sayur menggunakan Ozon dengan metode Evaporative Cooling sebagai sistem pendingin. Untuk mempermudah mengenal alat ini maka tim yang diketuai oleh Muqsit Bramantiya memberi nama “BUSATO”.

BUSATO diharapkan menjadi salah satu solusi maraknya penggunaan lilin untuk mempercantik buah-buahan, membunuh bakteri pada buah dan sayuran serta memperpanjang masa simpan buah dan sayur tersebut. Prototype ini merupakan lanjutan dari penelitian Alwi Meidianto tentang pemanfaatan ozon yang sebelumnya menjadi finalis pada PIMNAS ke 28 di kendari beberapa waktu lalu. Ozon dihasilkan menggunakan reaktor DBD dengan konfigurasi electrode jaring-jaring untuk membunuh bakteri. Sistem pendingin menggunakan pot refrigerator sebagai tempat penyimpanan buah dan sayur.

Dalam pengujian alat ini yang menjadi perhatian adalah  tampilan fisik dan jumlah bakteri serta suhu penyimpanannya yang sampai saat ini dapat menghasilkan suhu simpan sebesar 250C. Pada pengujian alat, buah dan sayur memiliki jumlah bakteri sebanyak 6,5×103cfu/ml, setelah dilakukan treatment jumlah tersebut berkurang menjadi 3,5×103 cfu/ml. Setelah buah dan sayur disimpan didalam alat selama 3 hari jumlah bakterinya 5,6×103 cfu/ml sedangkan tanpa penyimpanan (control negative) mencapai 1,66×104 cfu/ml. Tampilan fisik pada control negative telah mengalami pembusukan, sedangkan buah dan sayur yang ditreatment menunjukkan tampilan fisik yang masih segar.

Sejauh ini perkembangan alat masih cukup baik, “saat ini mungkin ide kami terbilang sederhana, namun kami yakin kedepan ide sederhana ini akan menjadi salah satu jawaban atas permasalahan bangsa” ujar Pajar selaku humas tim BUSATO. Pengembangan BUSATO masih terus dilakukan, karena alat ini tidak sebatas mendinginkan seperti lemari pendingin, namun ada fungsi lain yaitu untuk membunuh bakteri juga. Harapannya BUSATO dapat dikembangkan lebih luas dan semoga dapat dikomersialisasi terutama melalui unit bisnis UNDIP. (timbusato/undip)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Denmark Berbicara Kerjasama Lebih Lanjut Dengan Indonesia

Jakarta – Menristekdikti, M. Nasir pada hari Rabu (27/4) menyambut kedatangan Duta Besar (Dubes) Denmark untuk Indonesia Casper Klynge beserta 4 (empat) delegasi di Lantai 18, Gedung D Dikti, Jakarta. Kunjungan kali ini meneruskan inisasi kerjasama yang dilakukan oleh Kerajaan Denmark di mana pada tahun lalu Ratu Margarethe II mengunjungi Indonesia. Pada kunjungan Ratu Margarethe II dilaksanakan penandatanganan 4 (empat) Memorandum of Understanding (MoU) yang menyepakati kerjasama dalam bidang maritim, budaya, energi, dan transportasi. Pada kunjungan Dubes Denmark kali ini Menteri Nasir ditemani oleh Direktur Jendral Kelembagaan Iptekdikti Patdono Suwignyo, Staf Khusus Menteri Abdul Wahid Maktub dan Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik, Nada DS Marsudi.

Pada kunjungan kehormatan tersebut Menteri Nasir menjelaskan peran struktur organisasi serta peran strategis Kemenristekdikti dalam pembangunan riset, teknologi serta menjelaskan 7 + 1 bidang fokus riset utama yang dilakoni oleh Indonesia. Bidang fokus tersebut diantaranya kemaritiman, infrastruktur dan transportasi, kesehatan dan obat-obatan, energi terbarukan (renewable energy), advanced materials (Nano-technology), pertahanan nasional, pangan dan ketahanan pangan, serta teknologi komunikasi informasi (ICT). Banyak bidang yang menarik bagi kedua negara untuk dilakukan kerja sama, terutama dalam bidang maritim dan energi.

Hubungan Indonesia – Denmark sudah terjalin dari tahun 1950-an namun sampai saat ini masih belum memiliki landasan hukum sebagai basis dalam kerjasama di bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan. “Salah satu alasan utama kami melakukan kunjungan adalah untuk meningkatkan kerjasama antara Indonesia dengan Denmark, karena kedua negara belum memiliki MoU (payung kerjasama) dalam bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi,” ujar Duta Besar Casper.

Mengingat banyaknya perguruan tinggi Indonesia yang sudah memiliki kerjasama dengan perguruan tinggi Denmark, serta kesamaan pada bidang riset menjadi fokus utama salah satu pertimbangan serta alasan kuat demi meningkatkan kerjasama antar kedua Negara. Patdono Suwignyo, Dirjen Kelembagaan Iptek Dikti mengatakan bahwa salah satu hal yang diharapkan dari kerjasama antara Indonesia – Denmark mengenai pengembangan sekolah vokasional atau kejuruan. Inisiasi kerjasama tersebut karena sistem pendidikan kejuruan di Indonesia hanya dilakukan secara umum dan kurang terspesialisasi. Denmark memiliki beberapa politeknik yang berspesialisasi dalam beberapa bidang seperti kesehatan dan maritim.

MoU yang akan diinisiasi diharapkan dapat meningkatkan standar kualitas pendidikan politeknik serta menciptakan pertukaran ilmu pengetahuan dan meningkatkan hubungan bilateral antar kedua negara. Selain kerjasama bidang pengembangan pendidikan, juga dibahas kerjasama sektor energi, terutamanya energi terbarukan (renewable energy). Energi angin merupakan salah satu bidang utama yang ingin digiatkan kerjasama antara Denmark dengan Indonesia, mengingat posisi geografis Indonesia yang strategis serta kebutuhan Indonesia akan ketahanan energi. Energi angin dinilai dapat menjadi salah satu sumber energi baru yang berkelanjutan serta efisien.

Dalam sesi akhir kunjungan tersebut pihak Kemristekdikti menyatakan akan terus bekerjasama dalam mendorong terciptanya MoU antara Indonesia dan Denmark dalam bidang riset, teknologi, dan pendidikan tinggi. Duta Besar Casper Klynge juga mengharapkan Menristekdikti dapat melakukan kunjungan kerja ke Denmark pada masa mendatang. (mf/bkkp)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Indonesia Jajaki Kerja Sama Pendidikan Tinggi dengan Meksiko

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) mendapat kunjungan kehormatan dari Duta Besar Indonesia untuk Meksiko, Yusra Khan beserta delegasi. Beliau disambut langsung oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir, di Gedung D Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta (27/4).

Kunjungan kehormatan tersebut dilakukan dalam rangka mengkoordinasikan upaya KBRI dalam peningkatan hubungan bilateral antara Indonesia dan Meksiko di bidang riset, teknologi, dan pendidikan tinggi, khususnya mengenai  potensi kerja sama antar perguruan tinggi, pertukaran peneliti, guru besar, dan berbagai peluang beasiswa pendidikan tinggi. Pada kesempatan ini, Menristekdikti didampingi oleh Sekretaris Jenderal, Ainun Na’im; Dirjen Kelembagaan Iptek Dikti, Patdono Suwignjo; Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, Muhammad Dimyati; Dirjen Sumber Daya Iptek Dikti, Ali Ghufron Mukti;  Staf Khusus Menristekdikti,  Abdul Wahid Maktub; serta Nada Marsudi, Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik.

Dubes Yusra Khan menyampaikan keinginannya untuk mempromosikan pendidikan tinggi  Meksiko ke Indonesia untuk menumbuhkan minat sekolah ke Meksiko dengan memanfaatkan beasiswa yang ditawarkan oleh Meksiko dan negara yang berbatasan langsung dengan Meksiko seperti Salvador, Guatemala, dan Belize.

“Program pertukaran pelajar telah terjadi tetapi sangatlah sedikit, dan kurangnya pertukaran tenaga pengajar dan researcher,” ujar Yusra Khan.

Yusra Khan juga menginformasikan kerja sama inkubator bisnis antara perguruan tinggi Indonesia-Meksiko yang saat ini sedang dijajaki bersama sejumlah perguruan tinggi di Indonesia seperti ITB, IPB, dan UNPAD. Yusra Khan menyarankan untuk membuat pusat kajian perguruan tinggi yang terkemuka di Meksiko, karena Meksiko merupakan sentral untuk negara latin. Perguruan tinggi di Meksiko pada umumnya memiliki program studi yang bersinergi dengan kebutuhan industri, yang membuat mereka kuat dalam produksi manufaktur seperti pesawat terbang, alat-alat kesehatan, dan alat-alat elektronik.

Menristekdikti beserta para Dirjen menyambut baik hal tersebut. Menristekdikti menyampaikan keinginannya untuk mengembangkan kerja sama pendidikan vokasi. Dirjen Patdono juga menambahkan untuk mengembangkan kerja sama Science Techno Park (STP). Menristekdikti dan Dubes Yusra Khan berharap agar ke depannya hubungan antara Indonesia dan Meksiko dapat dipererat melalui kerja sama di bidang riset, teknologi dan pendidikan tinggi. (wsn,ma/bkskp)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

« Older Entries