Kominfo dan UNAIR Buka Beasiswa Bagi Mahasiswa S-2 Komunikasi

PIH UNAIR – Kementerian Komunikasi dan Informasi RI bekerja sama dengan Universitas Airlangga memberikan beasiswa kepada pegawai negeri sipil untuk melanjutkan kuliah di program studi S-2 Komunikasi. Beasiswa tersebut diberikan setelah pelajar yang bersangkutan diterima di perguruan tinggi negeri yang ditunjuk oleh Kominfo sebagai tempat belajar.

Hal itu disampaikan oleh koordinator program studi S-2 Media dan Komunikasi Dr. Santi Isnaini ketika diwawancara oleh UNAIR News, Rabu (15/3). Santi mengatakan, ada tujuh perguruan tinggi negeri yang ditunjuk oleh Kominfo. Yakni, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, Universitas Sebelas Maret, Universitas Sumatera Utara, dan tentu saja UNAIR.

Setiap penerima beasiswa ini tak perlu khawatir dengan biaya pendidikan. Sebab, beasiswa dalam negeri sudah mencakup biaya pendidikan per semester, biaya operasional dan biaya buku yang besarannya ditentukan sesuai masa studi.

Untuk mendapatkan beasiswa tersebut, peserta harus merupakan PNS pada instansi pemerintah pusat maupun daerah, dan anggota TNI/Polri yang bekerja di bidang kehumasan dan pengelolaan informasi publik. Peserta maksimum berusia 37 tahun saat mendaftarkan diri dan memiliki masa kerja minimum dua tahun.

Selain itu, peserta juga harus mendapatkan izin dari pejabat setingkat eselon tiga di instansi yang bersangkutan untuk menjalani pendidikan. Syarat lainnya yang harus dipenuhi peserta adalah mereka belum memiliki gelar master dan tidak sedang menjalani pendidikan di lembaga lain.

“Persyaratan lainnya mengikuti persyaratan masing-masing perguruan tinggi yang dipilih. Kalau di UNAIR, kami mensyaratkan saat pendaftaran, pelamar program studi harus membawa praproposal tesis. Hal ini untuk memudahkan kami untuk menentukan supervisor tesis,” tuturnya.

Terkait dengan kuota, setiap tahunnya UNAIR menerima 10 hingga 15 orang penerima beasiswa.

Sejak tahun 2013, UNAIR dipercaya oleh Kominfo sebagai mitra untuk menyelenggarakan pendidikan jenjang master program studi Komunikasi. Pengajar mata kuliah Pengantar Ilmu Komunikasi pada Departemen Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, UNAIR mengatakan bahwa lulusan program beasiswa ini telah tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia. Peserta program di antaranya berasal dari daerah Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Selatan.

“Dari cerita-cerita, setelah mereka lulus dari sini (UNAIR), mereka banyak mengembangkan inovasi-inovasi di SKPD (satuan kerja perangkat daerah, red) tempat mereka bekerja,” tutur Santi. (Humas UNAIR)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Gunakan Dana Hilirisasi Riset, Peneliti UNAIR Kembangkan Klinik Stem Cell dan Industri PT

PIH UNAIR – Dua peneliti Universitas Airlangga berhasil mendapatkan dana inovasi perguruan tinggi di industri dari Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Dana untuk menghilirisasi riset itu berhasil didapat setelah melalui rangkaian seleksi proposal dan presentasi penelitian.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Inovasi Prof. Hery Purnobasuki, Ph.D, ketika diwawancarai, Selasa (21/3). “Dana dari Kemenristekdikti itu kan sumbernya bermacam-macam. Ada beberapa dana yang terkait dengan inovasi. Nah, dari Ditjen Penguatan Inovasi ini memang cukup besar karena mereka mengharapkan itu sudah mulai dekat dengan industri,” tutur Hery.

Hery mengatakan, pihaknya mengajukan sebelas proposal penelitian untuk mendapatkan alokasi dana tersebut. Namun, setelah diseleksi oleh tim Kemenristekdikti, dua di antaranya berhasil mendapatkannya.

Sedangkan di tingkat nasional, dari perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTN-BH), jumlah penerima dana hilirisasi riset sebanyak 13 orang. Kedua peneliti yang berhasil meraih dana hilirisasi riset adalah pakar sel punca Prof. Dr. Fedik Abdul Rantam, dan Dr. Suryani Dyah Astuti.

Dalam penelitian yang mendapatkan dana sebesar Rp 2,93 miliar itu, Fedik mengusung judul penelitian “Akselerasi Produksi Stem Cell dan Metabolit Mesenchymal Stem Cell untuk Terapi Degeneratif”.

Sementara Dyah dengan judul riset “Inovasi Produksi Dentolaser Antimikroba dan Biomodulasi Sel untuk Akselerator Respon Penyembuhan Penyakit Gigi dan Mulut”, mendapatkan dana sebesar Rp 4 miliar.

Selain melalui seleksi administratif, syarat utama penelitian yang diajukan ke Kemenristekdikti harus mencapai minimal tingkat kesiapan teknologi atau technology readiness level ke-6. Tingkat kesiapan teknologi ke-6 berarti suatu penelitian sudah mencapai tahap demonstrasi teknologi.

Kedua penelitian tersebut memiliki capaian target yang berbeda. Penelitian sel punca milik Fedik akan dikembangkan menjadi sebuah klinik stem cell. Sedangkan, penelitian dentolaser antimikroba akan dikembangkan menjadi teaching industry (industri perguruan tinggi) yang akan dimanfaatkan untuk sarana ajar bagi mahasiswa.

“Artinya, kalau yang produk Dentolaser itu, kita akan membuat produk sekaligus untuk pembelajaran mahasiswa, terus barangnya juga tetap akan dihilirisasi ke industri. Kalau yang stem cell, pemerintah menuntut kita untuk sampai menjadi klinik stem cell,” tutur Hery.

Dyah, pengembang produk laser bernama Dentolaser, mengatakan bahwa ia tengah mengembangkan laser untuk digunakan sebagai terapi antimikroba penyakit gigi dan mulut, serta infeksi pada kulit seperti luka dan jerawat. Targetnya, tahun 2018, produk Dentolaser akan diproduksi massal dan dipromosikan kepada calon pengguna seperti Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi, dan dokter akupunktur. (Humas UNAIR)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Rumah Sakit Terapung Siap Beroperasi di Hari Kebangkitan Nasional

PIH UNAIR – Perencanaan pembangunan rumah sakit terapung yang diinisiasi alumni Fakultas Kedokteran dan Universitas Airlangga sudah berjalan hingga 60 persen. Hal tersebut diutarakan oleh Ketua Yayasan Ksatria Medika Airlangga dokter Christriyogo Sumartono, Sp.An-KAR., ketika berkunjung ke Kantor Manajemen UNAIR, Selasa (21/3).

Christ, sapaan akrabnya, mengatakan saat ini kapal Pinisi yang digunakan sebagai rumah sakit terapung tengah dibangun di salah satu bengkel kapal di Makassar, Sulawesi Selatan. “Saat ini tinggal finishing(tahap akhir). Tinggal penyelesaian, memasukkan mesin dalam kapal, dan pemasangan layar-layar perahu,” tutur Christ.

Pada pekan ini, pihaknya menargetkan pemasangan mesin dalam kapal akan dilakukan. Sesaat setelah pemasangan mesin kapal selesai, bodi kapal akan segera dilakukan pengecatan. Targetnya, awal April kapal berukuran 27 meter dan lebar 2 meter itu akan dikirimkan ke Surabaya untuk dipasangi peralatan-peralatan medis.

Menurut Christ, rumah sakit terapung itu akan ditunjang oleh minimal empat dokter dari spesialis yang berbeda yakni dokter spesialis bedah, obstetri dan ginekologi, penyakit dalam, dan anak.

Christ mengatakan, rumah sakit terapung ini memang tak mungkin memiliki fasilitas selengkap rumah sakit pada umumnya. Namun, pihaknya akan memaksimalkan tujuan pembangunan kapal tersebut dengan dua kamar operasi yaitu kamar operasi bersih dan kamar operasi semi bersih.

“Karena kami menyediakan ruang operasi, maka kami sudah pasti akan melengkapi sarana penunjang kamaroperasi, seperti ruang pemulihan, ruang perawatan, dan lain-lain,” tutur Christ.

Pihaknya menegaskan, rumah sakit terapung akan melengkapi pelayanan kesehatan swasta maupun pemerintah yang memang sudah tersedia di daerah-daerah. “Jadi, pasti kami akan saling mendukung dengan pihak dinas kesehatan setempat untuk mengumpulkan kasus-kasus yang dihadapi pasien di mana pelayanan yang kami kerjakan adalah yang tidak terjangkau bagi mereka,” imbuhnya.

Sesuai rencana, kapal tersebut akan resmi beroperasi mengarungi perairan Nusantara pada 20 Mei 2017 bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional. Rencananya, kapal tersebut terlebih dahulu mengunjungi Pulau Bawean dan kawasan Sumenep.

Pembangunan rumah sakit terapung itu bertujuan untuk menjembatani disparitas pelayanan kesehatan, khususnya di daerah-daerah terpencil.Gagasan tersebut disampaikan oleh alumnus FK UNAIR dokter spesialis bedah Agus Hariyanto yang bekerja di daerah pedalaman di wilayah Indonesia bagian timur. Gagasan tersebut mulai diperkenalkan kepada publik melalui acara simposium Adventure and Remote Medicine, pada Selasa (15/11) lalu. (Humas UNAIR)

rilis-pih-unair-rumah-sakit-terapung


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Sudah Saatnya Riset untuk di Implementasi

Riset bukan lagi berakhir pada publikasi, tetapi riset harus berujung pada inovasi yang kemudian bisa bernilai penting untuk masyarakat agar dapat dimanfaatkan dan dikomersialkan, karena riset menjadi salah satu harapan untuk meraih keberhasilan dan menjaga momentum bagi Indonesia di masa depan.

Hal ini disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir, pada peluncuran kegiatan USAID’s Sustainable Higher Education Research Alliances Program (USAID SHERA) dalam bentuk hibah penelitian untuk lima perguruan tinggi di Indonesia, bertempat di Auditorium Gedung Kemenristekdikti, Jakarta, Selasa (21/3).

Menristekdikti, M. Nasir mengatakan, CCR atau Center for Collaborative Research menjadi sangat penting karena kerja sama ini merupakan kepercayaan dari Amerika Serikat melalui USAID SHERA akan kemampuan periset Indonesia untuk menjadi pengelola di bidang teknis maupun manajerial.

“Saya sangat mendukung kerja sama internasional seperti ini, SDM kita luar biasa banyak,  kita harus membuktikan kepada dunia bahwa peneliti dan inovator Indonesia juga mampu memimpin dan mengelola riset yang menghasilkan penelitian kelas dunia,” ujar Menteri Nasir di sela-sela sambutannya.

Sekretaris Jenderal Kemenristekdikti, Ainun Na’im menyampaikan pada laporannya, USAID SHERA merupakan program kemitraan penelitian antar perguruan tinggi untuk jangka waktu lima tahun, dan bertujuan meningkatkan kapasitas penelitian di perguruan tinggi Indonesia yang kondusif, berkualitas, produktivitas dan kesejahteraan Indonesia.

“USAID SHERA bekerja sama dengan Kemenristekdikti dan  23 perguruan tinggi di Indonesia, baik  negeri maupun swasta, yang tersebar mulai  dari Aceh hingga Papua, dan 8 perguruan tinggi di Amerika Serikat,” ucap Sesjen Ainun.

Adapun topik di lima PTN yang menjadi koordinator sekaligus pemenang program USAID SHERA didasarkan pada prioritas penelitian di Indonesia, yaitu; (i) Universitas Indonesia (UI) untuk topik Urban Development and Planning, (ii) Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk topik Innovative Technologies, (iii) Universitas Padjadjaran (UNPAD) untuk topik Public Health and Infection Disease, (iv) Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk topik Environment, Energy and Maritime Sciences, dan (v) Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk topik Food Security and Self Sufficiency.

Wakil Duta Besar Amerika Serikat, Brian McFeeters menjelaskan, pembentukan kerja sama melalui Center for Collaborative Research (CCR) ini akan sangat membantu untuk mengembangkan, membina, dan mempertahankan penelitian di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi antara Indonesia dan Amerika Serikat.

“Kemitraan antara lembaga pendidikan tinggi di Amerika Serikat dan Indonesia akan mempertemukan para ilmuwan Indonesia dan AS untuk melakukan penelitian kelas dunia, dan diharapkan akan meningkatkan kemampuan peneliti dan daya dukung lingkungan penelitian di Indonesia,” kata Wadubes AS, Brian McFeeters.

Kemenristekdikti akan terus mengawal kerja sama internasional yang baik ini sebagai langkah maju dalam meningkatkan pembangunan dan daya saing bangsa Indonesia kedepannya. (ard)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Peluncuran Program USAID’s Sustainable Higher Education Research Alliances (USAID SHERA)

SIARAN PERS

No. 21/SP/HM/BKKP/II/2017

Jakarta, 21 Maret 2017

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir bersama-sama dengan Wakil Duta Besar Amerika Serikat, Brian McFeeters, meluncurkan kegiatan USAID’s Sustainable Higher Education Research Alliances Program (USAID SHERA) senilai $20 Juta Dolar AS dalam bentuk hibah penelitian untuk lima perguruan tinggi di Indonesia. Kegiatan ini ditujukan untuk  meningkatkan kapasitas perguruan tinggi dalam menghasilkan penelitian-penelitian bertaraf internasional. Penelitian yang dilakukan berbasis kerja sama melalui Pusat Kolaborasi Riset atau Center for Collaborative Research (CCR) yang diusung USAID SHERA, dan menjadi wadah  para akademisi, peneliti, Pemerintah Daerah, pihak swasta dan NGO di Indonesia dan Amerika Serikat.

“Pembentukan CCR ini akan sangat membantu untuk mengembangkan, membina, dan mempertahankan penelitian di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi. Kemitraan antara lembaga pendidikan tinggi di AS dan Indonesia diharapkan akan meningkatkan kemampuan peneliti dan daya dukung lingkungan penelitian di Indonesia, “kata DCM McFeeters. “Kemitraan Penelitian ini akan mempertemukan para ilmuwan Indonesia dan AS untuk melakukan penelitian kelas dunia” tambahnya.

USAID SHERA merupakan program kemitraan penelitian antar perguruan tinggi untuk jangka waktu lima tahun yang dilaksanakan oleh Institute of International Education (IIE) dan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas penelitian di perguruan tinggi Indonesia dan meningkatkan lingkungan yang kondusif untuk penelitian yang berkualitas di perguruan tinggi Indonesia, dengan tujuan jangka panjang untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan Indonesia. USAID SHERA bekerja sama dengan Kemenristekdikti dan  23 perguruan tinggi di Indonesia, baik  negeri maupun swasta, yang tersebar mulai  dari Aceh hingga Papua, dan 8 perguruan tinggi di AS. Selain perguruan tinggi, dalam beberapa topik penelitian juga melibatkan pihak swasta dan pemerintah daerah sehingga diharapkan terjadi sinergi kekuatan antara akademisi, bisnis, dan pemerintah (Triple Helix).

USAID SHERA bekerja sama dengan Kemenristekdikti untuk membangun CCR pada perguruan tinggi dengan topik yang didasarkan pada prioritas penelitian di Indonesia, yaitu: Universitas Indonesia (UI) untuk topik Urban Development and Planning, Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk topik Innovative Technologies, Universitas Padjadjaran (UNPAD) untuk topik Public Health and Infection Disease, Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk topik Environment, Energy and Maritime Sciences, dan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk topik Food Security and Self Sufficiency.

Sedangkan 8  perguruan tinggi dari AS yang menjadi  mitranya  adalah Universitas Colorado Boulder, University of Colorado Denver, Massachusetts Institute of Technology, University of Rhode Island, Mississippi State University, University of Illinois, Urbana-Champaign, Universitas Florida, dan Savannah State UniversityNasir menyatakan bahwa dalam skema kerja sama ini, perguruan tinggi Indonesia dipilih menjadi pimpinan CCR, hal ini merupakan kehormatan dan kepercayaan akan kemampuan para pengelola baik di bidang teknis maupun manajerial. Oleh karena itu kami sangat mendukung skema seperti ini, karena sesunggunya kita memiliki sumber daya sangat luar biasa yang tidak dimiliki oleh negara lain dan kita juga harus bisa membuktikan kepada negara luar bahwa kita juga mampu memimpin dan mengelola kerja sama internasional semacam ini. Skema kerja sama penelitian dalam bentuk CCR seperti ini akan terus kami dukung dan kembangkan. Semoga kerja sama Kemristekdikti dan USAID ini dapat menjadi cermin persahabatan antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat di bidang penelitian dan pendidikan tinggi tambahnya.

Acara peluncuran ini dimeriahkan pula dengan Gallery Walk-CCR yang menggambarkan obyek visual dari rencana penelitian yang akan dilakukan oleh masing-masing CCR serta pentingnya penelitian tersebut dalam implementasi kerja sama ini. Tampak hadir para rektor dari lima perguruan tinggi penerima hibah penelitian dan beberapa rektor perguruan tinggi mitranya.

##


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

« Older Entries