Perkuat Pengelolaan Sumber Daya Laut Indonesia

SEMARANG – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersepakat melakukan kerja sinergi dalam pengelolaan sumber daya laut. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan MoU yang dilakukan oleh MenKKP dan Menristekdikti di Undip, Sabtu (3/12).

Ruang lingkup kerjasama yang disepakati kedua Kementerian ini meliputi pemanfaatan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan dan kelembagaan pendidikan tinggi, penguatan inovasi pertukaran data dan informasi juga pemanfaatan sarana dan prasarana.

Menristekdikti mengatakan, dalam kerjasama dengan KKP ini pihak Kemenristekdikti akan mendorong pemanfaatan hasil riset dan inovasi bidang kelautan untuk diberdayaakan dalam pengelolaan sumber daya laut Indonesia. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan kapal paralon dari Undip dan kapal plat datar dari UI.

“Kapal paralon dan kapal plat datar ini masih dalam sertifikasi. Nantinya akan kita dorong untuk dimanfaatkan KKP,” ungkap Nasir.

Selain siap kerahkan dua kapal hasil inovasi dari perguruan tinggi, tambah Nasir, Kemenristekdikti juga sepakat mendukung pemantauan laut dengan menggunakan teknologi yang dimiliki Kemenristekdikti. Sehingga ada tiga kementerian yang bekerjasama dalam pemantauan laut, yakni Kemenhan, KKP dan Kemenristekdikti.

“Apa yang disampaikan Ibu Susi harus didukung. Jangan sampai ada kapan pencuri ikan yang masuk ke Indonesia,” tegas Nasir. (SUT)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Doctor Honoris Causa untuk Menteri Susi

SEMARANG – Indonesia memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia setelah Kanada, namun produktivitas perikanan Indonesia hanya nomer tiga di Asia Tenggara. Sementara pada 2014, terdapat sekitar 20 hingga 35 persen produk ikan tuna yang masuk ke Amerika Serikat justru berasal dari Indonesia yang diekspor secara illegal. Karena itu, Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKKP) Susi Pudjiastuti mengajak masyarakat untuk konsisten menjalankan reformasi tata kelola perikanan di Indonesia.

Pokok pikiran tersebut dipaparkan Susi saat menyampaikan pidato berjudul “Pemberantasan Illegal, Unreported and Unregulated (IUU) Fishing : Menegakkan Kedaulatan dan Menjaga Keberlanjutan untuk Kesejahteraan Bangsa Indonesia” dalam rapat senat terbuka penganugerahan Doktor Honoris Causa bagi dirinya di Kampus Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Sabtu (3/12).

Dalam pidatonya, Susi memaparkan beberapa pokok pikiran penting terkait pengelolaan sumber daya laut Indonesia. Selain mengungkap tiga pilar pembangunan perikanan Indonesia (kedaulatan, keberlanjutan dan kebijaksanaan), Susi juga membeberkan upayanya dalam pemberantasan illegal fishing yang pernah membuat heboh karena disertai penenggelaman kapal-kapal asing pencuri ikan.

Susi mengatakan, Presiden Joko Widodo telah berkomitmen ingin menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia. Selain itu, Presiden juga berkomitmen ingin menjadikan laut Indonesia sebagai masa depan Bangsa Indonesia. Kedua komitmen Presiden itu dinilai Susi sangat logis dan relevan karena Indonesia punya garis pantai terpanjang di dunia dan dua per tiga wilayah Indonesia berupa laut.

“Potensi laut Indonesia sangat luar biasa. Seharusnya, Indonesia menjadi pemimpin dunia kemaritiman,” paparnya.

Usai menyampaikan pidato, Susi Pudjiastuti menerima penganugerahan Doktor Honoris Causa yang diserahkan langsung Rektor Undip Yos Johan Utama. Menurut Rektor Undip, gelar tersebut layak diterima oleh Susi karena kompetensi dan profesionalitasnya dalam mengawal pembangunan di bidang Kelautan dan Perikanan.

Acara penganugerahan Doktor Honoris Causa tersebut juga disaksikan sejumlah Menteri Kabinet Kerja, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan para tamu undangan. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir juga ikut hadir untuk menyampaikan pidato ucapan selamat kepada Susi Pudjiastuti. Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan, Susi Pudjiastuti layak menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Undip berdasar kompetensi dan profesionalitasnya.

“Selama ini orang banyak berpandangan bahwa yang bisa mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa hanya orang-orang yang pernah menempuh studi pendidikan tinggi atau bergelar sarjana. Padahal tidak demikian. Saya melihat di dunia terdapat banyak ahli berkompetensi tinggi di berbagai bidang, tapi tanpa dilengkapi akademik. Orang-orang yang memiliki kompetensi sebagai ahli juga bisa mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa,” jelas Nasir.

Proses penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di Indonesia sendiri, jelas Nasir, sudah ditempuh melalui proses standar dalam Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Dalam KKNI terbagi dalam level satu hingga level Sembilan.

“Untuk level enam setara sarjana, level delapan setara S2, dan level sembilan setara doktor. Sedang Bu Susi baru saja mendapatkan sertifikat BNSP level Sembilan yang setara Doktor. Apa yang dilakukan Bu Susi selama ini sudah setara dengan gelar Doktor dalam akademik,” jelas Nasir. (SUT)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

PENGUMUMAN PESERTA SELEKSI PRESENTASI INSENTIF INOVASI TEKNOLOGI YANG DIMANFAATKAN DI INDUSTRI 2017

 

PENGUMUMAN

Lampiran Nota Dinas No. 386/F3/TU/2016 Tanggal 2 Desember 2016

 

Bersama ini kami sampaikan pengumuman peserta yang akan mengikuti proses seleksi presentasi yang akan dilaksanakan pada :

 

NO BIDANG FOKUS WAKTU ALAMAT
1 BIDANG FOKUS PANGAN I SELASA, 6 DESEMBER 2016

07.30 s.d selesai

 

 

 

 

 

 

 

 

GEDUNG : GRAHA WIDYA BHAKTI, PUSPIPTEK SERPONG – TANGERANG SELATAN

2 BIDANG FOKUS PANGAN II RABU, 7 DESEMBER 2016

07.30 s.d selesai

3 BIDANG FOKUS KESEHATAN DAN OBAT RABU, 7 DESEMBER 2016

07.30 s.d selesai

4 BIDANG FOKUS BAHAN BAKU SELASA, 6 DESEMBER 2016

07.30 s.d selesai

5 BIDANG FOKUS MATERIAL MAJU SELASA, 6 DESEMBER 2016

07.30 s.d selesai

6 BIDANG FOKUS TEKNOLOGI DAN INFORMASI RABU, 7 DESEMBER DAN

KAMIS, 8 DESEMBER 2016

07.30 s.d selesai

7 BIDANG FOKUS HANKAM KAMIS, 8 DESEMBER 2016

07.30 s.d selesai

8 BIDANG FOKUS ENERGI RABU, 7 DESEMBER 2016

07.30 s.d selesai

9 BIDANG FOKUS TRANSPORTASI SELASA, 6 DESEMBER 2016

07.30 s.d selesai

Bagi peserta yang akan mengikuti seleksi Presentasi untuk menyiapkan bahan presentasi secara singkat, padat dan jelas. Adapun slide presentasi meliputi :

  1. Latar Belakang
  2. Dampak yang lebih luas
  3. Luaran dan kesadaran pasar
  4. Manajemen kegiatan
  5. Inovasi
  6. Resiko
  7. Biaya dan Manfaat

Waktu yang diberikan untuk presentasi 30 menit masing-masing peserta. Demikian kami sampaikan, adapun peserta yang akan mengikuti tahap seleksi presentasi sebagaimana terlampir  dalam link dibawah ini:

Peserta Seleksi presentasi per bidang fokus


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Hasil Riset Anak Bangsa Dukung Poros Maritim Indonesia

JAKARTA – Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) telah menginisasi program peningkatan kualitas kelembagaan Iptek dan Dikti melalui Program Pengembangan Pusat Unggulan Iptek (PUI) untuk penguatan kapasitas dan kapabilitas lembaga litbang yang diarahkan dalam menjawab tantangan ke depan yaitu (1) meningkatkan dukungan nyata iptek terhadap peningkatan daya saing sektor-sektor produksi barang dan jasa; (2) meningkatkan dukungan iptek untuk keberlanjutan dan pemanfaatan sumberdaya alam baik hayati maupun nir-hayati; dan (3) meningkatkan dukungan iptek untuk penyiapan masyarakat Indonesia menyongsong kehidupan global yang maju dan modern.

Program peningkatan kualitas kelembagaan Iptek dan Dikti ini terus dikembangkan agar lembaga litbang mampu menghasilkan produk iptek yang berbasis demand/market driven dalam rangka mendukung peningkatan daya saing sesuai potensi ekonomi daerah.

Guna memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim dan mendorong pemanfaatan potensi perikanan yang melimpah, PUI yang dikembangkan dalam fokus unggulan maritim dan perikanan telah menghasilkan beberapa produk inovatif. Begitu banyak hasil penelitian yang sebenarnya dapat digunakan oleh masyarakat guna meningkatkan kekuatan sektor maritim Indonesia.

“Kita harus memberikan kontribusi nyata pada perekonomian. Dengan kapasitas litbang kita dorong untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Sistemnya bisa disesuaikan, alatnya bisa dikembangkan, fitur apa yang dibutuhkan,” jelas Yudho Baskoro, Kasubdit Lemlitbang Pemerintah Pusat Kemenristekdikti pada acara Coffee Morning Public Expose PUI, Jumat, 2 Desember 2016.

PUI yang tergabung dalam Klaster PUI Maritim dan Perikanan antara lain terdiri dari PUI Pemuliaan Ikan – KKP, PUI Bahan Aktif Laut – KKP, PUI Hidrodinamika Bangunan Apung – BPPT, PUI Broadband Wireless Access – ITB, dan PUI Permodelan Data Atmosfer Indonesia – LAPAN.

PUI Pemuliaan Ikan pada Balai Penelitian Pemuliaan Ikan – Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mengembangkan kapasitas riset pemuliaan ikan dalam mendukung sumber daya perikanan air tawar. Ikan Nila Srikandi merupakan strain ikan nila unggul yang dipersiapkan untuk perairan bersalinitas tinggi yang merupakan hasil persilangan antara ikan nila hitam nirwana betina dan ikan nila biru jantan dan secara resmi dilepaskan ke masyarakat. Strain Udang Galah GI Macro II merupakan strain unggul udang galah yang dibentuk dari empat strain udang galah yang secara geografis berasal dari tempat yang berbeda, yakni Barito (Sungai Barito, Kalimantan Selatan), Musi (Sungai Ogan, Sumatera Selatan), Asahan (Sungai Asahan, Sumatera Utara) dan Ciasem (Sungai Ciasem, Jawa Barat) serta strain udang galah GI Macro.

Ikan Lele Mutiara merupakan strain unggul ikan lele yang dibentuk dari gabungan persilangan strain ikan lele Mesir, Paiton, Sangkuriang dan Dumbo yang diseleksi selama 3 generasi pada karakter pertumbuhan. Ikan Mas Mustika merupakan strain unggul baru ikan mas Rajadanu yang telah ditingkatkan ketahanannya terhadap penyakit KHV (Koi Herpes Virus) melalui program seleksi berdasarkan marka molekuler MHC II spesifik pada alel Cyca-DAB1*05. Jenis yang telah dihasilkan ini telah dilepas ke masyarakat.

PUI Bahan Aktif Laut pada Puslitbang Daya Saing Produk dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan – Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menghasilkan karya inovatifnya dalam pemenuhan bahan baku, bahan bantu dan produk berbasis sumber daya hayati laut dalam mendukung industri pangan dan kesehatan. Produk inovatif tersebut antara lain (1) Fukoidan, bahan aktif laut yang berasal dari rumput laut coklat yang ketersediaannya sangat melimpah. Dengan teknologi ekstraksi/produksi yang dikuasai fukoidan digunakan sebagai ingredient untuk produk supplemen,kosmetik dan farmasi, (2) Produk Home dan Personal Care Berbasis Rumput Laut, yang bisa memperbaiki sel-sel kulit sehingga tidak keriput
(3) Produk minyak ikan dengan konsentrasi tinggi PUFA yang siap sebagai ingredient pangan fungsional dan minyak ikan layak konsumsi atau minyak ikan untuk pangan, dan (4) Enzim protease mikroba laut dari sumber air laut panas telah diproduksi untuk membuat hidrolisat protein ikan (HPI) secara biologi. Enzim ini dapat memecah protein sehingga nilai gizinya tetap ada tapi mudah untuk dicerna.

PUI Hidrodinamika Bangunan Apung – BPPT dalam rangka mendukung Program Pemerintah di bidang Maritim khususnya Tol Laut, telah mengembangkan Rancang Bangun Kapal Kontainer 100 TEUs. Kapal tersebut dirancang untuk mampu membawa 100 kontainer berukuran 20 feet. Kapal ini mempunyai ukuran panjang keseluruhan 79,45 m, lebar 17,40 m, draft 3 m dan kedalaman 4,5 m. Proses desain dan uji coba model telah dilakukan pada kegitan riset tahun 2013 dan detail desain serta key plan diselesaikan pada tahun 2016. Dan saat ini desain gambar key plan dalam proses sertifikasi oleh Biro Klasifikasi Indonesia (BKI).

“Dengan dibangunnya tol laut permintaan kapal untuk Kemenhub terutama kapal ikan kami mendapatkan order yang sangat besar tahun ini. Dari segi penerimaan naik sekitar tiga kali lipat,” ujar Taufiq Aris, Kepala Balai Teknologi Hidrodinamika BPPT.

PUI Hidrodinamika Bangunan Apung – BPPT juga melakukan layanan jasa teknologi berupa pengujian ship powering, manouevering dan seakeeping. Beberapa jenis kapal yang diuji adalah : Kapal Perinstis, Kapal Ferry, Tug Boat, Kapal Sungai, Kapal Kontainer, Kapal Riset Geomarine, Kapal Kenavigasian, Kapal Perambuan, Kapal Ikan, Kapal Penyeberangan. Dalam rangka mendukung program pemerintah di bidang hankam, PUI ini juga berperan dalam pengujian-pengujian berbagai model kapal perang dan kapal selam.

“Proses transfer teknologi dari negara lain mengenai hal ini sangat sulit dan ketat. Kalau transfer produk sendiri gampang. Karena itu kami juga bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan melalui suatu konsorsium, disitulah kami bisa masuk pada bidang desain dan pengujian. Kami juga berkonsolidasi dengan industri lainnya untuk bisa menguji kapal selam,” imbuh Taufik.

PUI Broadband Wireless Access pada Pusat Mikroelektronika Institut Teknologi Bandung, telah mengembangkan produk inovatif dalam mendukung pemanfaatan sumber daya maritim yaitu melalui produk OWN GRID yakni suatu Perangkat telekomunikasi untuk Nelayan.

Produk OWN GRID merupakan perangkat telekomunikasi untuk mendukung nelayan ketika sedang melakukan aktifitas melaut. Perangkat ini merupakan integrasi antara modul radio (Long Range atau LoRa) dengan smartphone berbasiskan Android Operating Sistem. Perangkat “e-Nelayan” ini mendukung banyak fitur yang memberikan informasi kepada nelayan seperti: Prakiraan cuaca, Prakiraan posisi ikan, Harga jual/beli ikan, Navigasi, Perekam rute jelajah nelayan, Fitur percakapan, Sinyal SOS, dan fitur lainnya.

“Kalau sekarang mereka (nelayan) melakukan sistem ‘mengepul’ ke tengkulak sehingga mengakibatkan kesejahteraan nelayan kurang. Kalau mereka tahu harga jual sebelumnya dari aplikasi ini mungkin itu bisa meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri,” tutur Febri Dawani, peneliti Pusat Mikroelektronika ITB. Meskipun diakui Febri saat ini respon para nelayan terhadap aplikasi ini sendiri masih kurang, sehingga dirinya menilai diperlukan pelatihan lagi agar nelayan terbiasa dengan penggunaan smart phone.

Kemudian PUI Permodelan Data Atmosfer Indonesia pada Pusat Sains dan Teknologi Atmosfir – LAPAN mengembangkan Sistem Embaran Maritim (Semar) sebagai sebuah sistem Pendukung Keputusan (SPK) atau Decision Support System (DSS berbasis komputer. DSS Maritim ini telah digunakan pada Unit Pelayanan Teknis Daerah (UPTD) Pelabuhan Perikanan Pantai (P3) Dinas Kelautan dan Perikanan DIY dalam proses pengambilkan keputusan. DSS Maritim memberikan informasi pengamatan berbasis satelit, radar, sensor di daratan dan lautan secara near real time serta prediksi kondisi atmosfer dan lautan di wilayah perairan selatan Yogyakarta berbasis model atmosfer/laut sebagai dasar pengambilan keputusan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan untuk mendukung keselamatan pelayaran dan peningkatan produksi perikanan tangkap. (APS)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Kebangkitan Kopi dan Kakao Indonesia dari Jawa Timur

Artikel – TabloidPendidikan.Com- Wapres Jusuf Kalla, mengatakan produksi kopi dan kakao di Indonesia lebih rendah dibandingkan Vietnam, Ghana dan Pantai Gading (detikfinance, 23/5/16). Sementara itu, tiga hari sebelumnya pada tanggal 20 mei 2016, Hari Kebangitan Nasional, Menristekdikti telah meresmikan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia menjadi Sains dan Teknologi Kopi dan Kakao  (Coffee and Cocoa Science Techno Park-CCSTP) di Jember, Jawa Timur.

Sesuai dengan tekad pemerintahan Presiden Joko Widodo – Jusuf Kala, akan membangun sejumlah Science dan Technopark (STP) di daerah dengan sarana dan prasarana berteknologi terkini. Ini merupakan cita – cita besar yang perlu didukung penuh oleh berbagai stake holder dan masyarakat, khususnya Pemerintah Daerah setempat. Adanya CCSTP, dapat menjawab permasalahan yang telah disampaikan oleh Wapres – JK, akan merubah peta produksi nasional kopi dan kakao sehingga mampu berdaya saing tinggi  dikawasan regional dan internasional.

Pohon Kakau

PusatPenelitian Kopi danKakao

Mungkin masyarakat di Indonesia, belum semuanya mengetahui bahwa di Indonesia mempunyai Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka). Sejak didirikan pada tanggal 1 Januari 1911 dengan nama Besoekisch Proefstation, menjadikan penelitian kopi dan kakao sudah sangat lama dilakukan di Indonesia,  sehingga layak jika Indonesia menjadi championship di produksi kopi dan kakao di dunia

Terjadinya dualisme menejerial, menimbulkan masalah tersendiri bagi kelembagaan Puslitkoka. Dimana secara fungsional berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian Republik Indonesia, sedangkan secara struktural dikelola oleh Lembaga Riset Perkebunan Indonesia – Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia (LRPI–APPI)

Hal inilah yang menyebabkan terjadinya beberapa kali perubahan nama dan manajemen Puslitkoka. Namun demikian, berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI No.786/Kpts/Org/9/1981 tertanggal 20 Oktober 1981, Puslitkoka adalah lembaga non profit yang memperoleh mandat untuk melakukan penelitian dan pengembangan komoditas kopi, kakao dan sebagai penyedia data dan informasi secara nasional.

Upaya peningkatan manajemen internal Puslitkoka terus diupayakan, dimana pada tahun 2008 mendapat akreditasi oleh Kemenristekdikti melalui Lembaga Sertfikasi KNAPPP (Komite Nasional Akreditasi Pranata Penelitiandan Pengembangan dengan Nomor Sertifikat : 006/Kp/KA-KNAPPP/I/2008. Prestasi terus digapai, setelah ditetapkan sebagai Pusat Unggulan Iptek Kakao pada tahun 2013 dan Pusat Unggulan Kopi pada tahun 2014, tahun 2015, Kemenristekdikti kembali menganugerahkan gelar Pusat Unggulan Iptek Kopi dan Kakao kepada Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia. Pencapaian ini, merupakan bukti bahwa Puslitkoka merupakan pranata litbang yang senantiasa berinovasi untuk riset dan pengembangan komoditi kopi dan kakao dalam mendukung program MP3EI (Master plan Percepatandan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia).

Mencermati dan Melilihat darivisi, misi dan dari pengalaman penelitian yang sangat panjang, puslitkoka ini, seharusnya sudah dapat mendorong tercapainya Indonesia menjadi produsen kopi dan kakao nomor satu di dunia. Mengapa demikian ? Karena budaya inovasi teknologi, industri dan senergitas dengan internasional sudah membudaya di seluruh jajaran puslitkoka,

Hal tersebut di atas, didukung oleh sumberdaya manusia yang mumpuni, berjumlah 301 orang, terbagi dalam 3 bidang: (1) Bidang Penelitiandan Pelayanan, (2) Bidang Usaha, dan (3) Bidang Administrasi/Penunjang. Peneliti berjumlah 34 orang, terdiriatas 11 orang berijasah S3, 8 orang berijasah S2, dan 15 orang berijasah S1. Berdasarkanj abatan fungsionalnya dapat dikelompokkan 11 orang Peneliti Utama, 12 orang Peneliti Madya, 1 orang Peneliti Muda, 1 orang Peneliti Pertama, dan 4 orang peneliti non kelas.

KawasanSainsdanTeknologi Kopi &Kakao

Target utama adanya sebuah Science Techno Park (STP) atau Kawasan Sains danTeknologi (KST), yaitu adanya proses penelitian dan pengembangan, proses tumbuh kembangnya perusahaan pemula berbasis teknologi (spin-off) dan proses tumbuh kembang cluster industri kedalam kawasan, sehingga terjadi ekosistem inovasi benar – benar bisa terwujud dengan melibatkan aktor – aktor Quadruple Helix, yaitu: academic, business, government, and community.

Lebih lanjut, keberhasilan pembangunan STP ini harus diikuti adanya implementasi, kesinambungan, kontinuitas, konsistensi, dan komitmen dalam pelaksanaan program hilirisasi iptek lintas sektoral sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan sekaligus perekonomian daerah. Semua halter sebut bukan mustahil untuk diterapkan di Indonesia tergantung dari tingkat sinergitas seluruh aktor yang terlibat di dalamnya

Timbul pertanyaan, apakah Puslitkoka ini layak meningkat menjadi sebuah STP/Kawasan Sains & Teknologi, sesuai yang diharapkan pemerintah ?. Ada beberapa fasilitas yang cukup sebagai prasyarat menjadikan STP, yaitu: (1) Taman eduwisata kopi dan kakao terlengkap di Asia, (2) Plasma nuftah kopi terbesar se-Asia Pasifik, (3) Plasma nutfah kakao terbesar se-Asia, (4) Perpustakaan kopi dan kakako terlengkap se-Indonesia, (5) Pabrik pengolahan hilir kopi dan kakao, dan (6) Unit workshop alat mesin pengolahan dan pertanian.

Ini ditunjang oleh adanya luas kawasan yang sangat memadai, seperti adanya kebun percobaan dan areal kantor seluas 380 ha, terdiri atas kebun percobaan kopi arabika (KP. Andungsari ketinggian 100-1.200 m dpl.), kopi robusta dan kakao (KP. Kaliwining dan KP. Sumber asin ketinggian 45-550 m dpl.).Adanya, laboratorium seluas 2.365 m2 dengan peralatan sejumlah 850 unit. Terdiri dari Laboratorium Pemuliaan Tanaman, Laboratorium Fisika Tanah, Kimia Tanah dan Biologi Tanah, Laboratorium Kultur Jaringan, Laboratorium Mekanisasi Pertanian, Laboratorium Pengolahan Hasil, Laboratorium Pengawasan Mutu, Pusat Informasi dan Pelatihan. Koleksi buku dan majalah di perpustakaan sebanyak 38.706 juduldan 38.983 eksemplar, terdiri atas 7.622 judul artikel tentang kopi, 5.024 judul artikel kakao, dan lebih dari 15.677 judul artikel tentang karet, tembakau, dan tanaman lainnya.

Dari sisi inovasi ipteknya, Puslit kakao telah menghasilkan klon baru tanaman kakao (Theobroma Cacacao L), hasil kultur jarigan dan pemuliaan kakao Sulawes i – 1, yang diberikan nama oleh Menristekdikti, yaitu Monasa dan Hanasa. Monasa dapat menghasilkan buah hingga 4,8 ton per hektar dan Hanasa mencapai 3,2 ton per hektar melebihi kakao Sulawesi – 1 hanya 2,2 ton per hektar. Untuk kopi, telah dilakukan persilangan klon antara klon Quilo yang tahan hama dan klon dari kopi Robusta BP-409 yang rendah tingkat keasamaannya, menjadi “Kopi Super”. Produksi bibit kopi dan kakao terus meningkat, dalam empat tahun terakhir mencapai 70 juta batang. Sementara kinerja terus ditingkatkan, khususnya dalam pengembangan jaringan riset dan bisnis dengan terus memperdayakan petani dan swasta melalui inovasi.

Sementara itu, Menristekdikti dalam salah satu kesempatan kunjungannya ke Puslitkoka, terus mengingatkan perlunya dan pentingnya hilirisasi produk, sehingga tercipta pusat ekonomi baru yang ditandai dengan lahirnya perusahaan pemula berbasis teknologi yang secara berkelanjutan.“Klon-varietas unggul yang telah dihilirkan keseluruh perkebunan kopi dan kakao Indonesia ini harus dikembangkan baik dengan perbanyakan konvensional maupun dengan metode Somatic Embryogenesis (SE). Integras itanaman kopi dan kakao dengan ternak (sapi dan kambing), serta biogas juga perlu dikembangkan di samping memperkuat teknologi pasca panen.

Pengembangan IPTEK merupakan salah satu unsur penting dalam membangun dan memajukan suatu bangsa. Terlebih lagi, persaingan ekonomi membuat berbagai bangsa di dunia berlomba dalam penguasaan teknologi sehingga menjadi bangsa yang yang memiliki daya saing (competitiveness). Dalam konteks global, salah satu upaya yang dilakukan dalam perekonomian berbasis teknologi /  iptek adalah dengan membangun Techno Park / Science Park atau dikenal dengan STP.

Upaya lebih lanjut adalah meningkatkan dan memperkuat sisi kelembagaan Iptek, Puslitkoka. Pemerintah, harus terus mengkaji !. Apakah mungkin menjadi Badan Layanan Umum ? Sehingga pola pengelolaan keuangan yang memberikan fleksibilitas berupa keleluasaan untuk menerapkan praktek – praktek bisnis yang sehat untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Akhirnya, akan mempercepat harapan terjadinya inkubasi di hilir oleh Taman Sain dan Teknologi Kopi dan Kakao tercapai ? Semoga !. [Adi]

Sumber: http://www.tabloidpendidikan.com/sains-dan-teknologi/kebangkitan-kopi-dan-kakao-indonesia-dari-jawa-timur


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

« Older Entries