Carut Marut Ujian Nasional (UN) 2013

penjaga-ujianUjian Nasional (UN) tingkat SMA 2013 tidak berjalan mulus. Pelaksanaannya carut marut. Mendikbud M Nuh memohon maaf sebesar-besarnya.

11 Provinsi terpaksa menunda pelaksanaan UN gara-gara terhadang masalah pengepakan soal. Penundaan ini mengakibatkan siswa-siswi peserta UN mengalami drop mental.

Ada lima kecarut-marutan UN:

1. Pengepakan Molor

Ada 11 provinsi yang terpaksa menunda penyelenggaraan UN lantaran kendala teknis pengepakan soal. 11 Provinsi yang mengalami pergeseran jadwal UN tersebut adalah: Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Ujian Nasional 2013 tingkat SMA/MA dan paket C di 11 provinsi diundur dari jadwal sebelumnya 15 April hingga 18 April 2013.

2. Tidak Ada Lembar Jawaban Braille

Siswa tunanetra dan tunarungu di SMA 112 Meruya Utara, Jakbar,  mengikuti ujian. Namun, untuk penyandang tunanetra ternyata tidak disiapkan lembar jawaban braille.

“Lembar jawaban braille belum ada. Untuk sementara ditulisin dulu,” ujar pengawas ujian khusus siswa inklusi di SMA 112 Teresia Marianti, Senin (15/4/2013). Teresia mengatakan pengawas juga tidak diberi salinan soal. Menurutnya, tahun lalu waktu UN di SMP pengawas dan siswa mendapatkan salinan soal dan lembar jawaban.

“Karena pengawas tidak dapat soal. Untuk siswa tunanetra diberi tambahan waktu 45 menit,” ujar Teresia yang berprofesi sebagai guru SLB ini.

Menurut dia, peserta tunanetra ini pun mendapatkan soal yang salah. “Dia dapat soal Bahasa Indonesia yang untuk anak IPA. Jadinya kita masukkan ke berita acara karena salah,” ujarnya.

3. Kertas Tipis & Gampang Robek

Siswa  SMK 1 Dewantara Aceh Utara mengeluhkan tentang lembar jawaban UN yang tipis dan rentan sobek.

“Kalau jawaban salah, kita tidak berani kita hapus, takut sobek,” kata Risky ketika ditemui usai UN di SMK 1 Dewantara, Senin (15/4/2013).

Risky dan beberapa teman sudah melaporkan ke pengawas ujian dan pihak sekolah. Namun pihak sekolah hanya bisa meminta para siswa mengisi jawabannya dengan hati-hati.

4. Pejabat Muncul, Konsentrasi Buyar

Kemendikbud berharap pejabat daerah mengurangi kunjungan ke sekolah yang tengah melaksanakan ujian nasional. Kunjungan pejabat dikhawatirkan mengganggu konsentrasi siswa.

“Mohon kunjungan pejabat saat UN dikurangi, itu kan sangat menggangu peserta ujian. Ada bupati datang, pejabat lain juga ikut datang,” kata Inspektur IV Itjen Kemendikbud, Amin Priatna, dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (15/4/2013) malam.

Di pelaksanaan hari pertama, Kemendikbud tidak mendapat laporan mengenai kecurangan atau kebocoran jawaban UN.

5. Soal Ujian Terselip

Kejadian mengagetkan dialami Radik Rikwanto, guru SMK PGRI Bantur, Malang. Radik menemukan soal ujian nasional Bahasa Inggris terselip dalam paket soal ujian Bahasa Indonesia. Beruntung soal ujian itu tidak sampai ke tangan siswa.

Radik menemukan soal ujian Bahasa Inggris saat dirinya membagikan soal UN Bahasa Indonesia kemarin (15/4). “Tiba-tiba di tumpukkan terbawah saya kaget karena menemukan lembar soal Bahasa Inggris dalam paket soal yang disegel itu,” kata Radik bercerita kepada detikcom melalui sambungan telepon, Senin (15/4/2013) malam.

Soal Bahasa Inggris yang menjadi mata pelajaran untuk ujian hari ini (16/4) berada di paling bawah tumpukan 21 lembar ujian Bahasa Indonesia.

“Saya langsung lapor ke koordinator pengawas, setelah itu kepala sekolah juga dipanggil untuk koordinasi, saat itu juga ada pihak kepolisian,” terangnya.

Setelah berunding, akhirnya disepakati naskah Bahasa Inggris dimasukkan ke dalam amplop kemudian disegel. Amplop itu langsung diantarkan ke kantor polisi untuk diamankan.

“Kan besok (hari ini-red) ujian Bahasa Inggris, jadi biar tidak bocor,” tutur Radik.

Kemendikbud Baru Tahu Kalau Ada Keterlambatan UN

Kemendikbud baru mengetahui keterlambatan pencetakan dan pendistribusian pada hari Sabtu, 13 April atau H-2 pelaksanaan ujian nasional siswa SMA/sederajat. Kemendikbud tengah menginvestigasi keterlambatan ini.

“H-2 kita baru tahu akan ada keterlambatan karena baru 80 persen yang tercetak,” ujar Amin Priatna, Inspektur IV Inspektorat jenderal Kemendikbud dalam keterangan pers di kantornya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (15/4/2013).

Kemendikbud juga membantah alasan PT Ghalia yang menyebut keterlambatan terjadi karena Kemendikbud molor menyerahkan draf naskah ujian.

“Draf soal-soal itu kami setorkan bersamaan kepada keenam pemenang tender, jadi kalau alasannya karena keterlambatan penyetoran soal dari kami, itu sangat tidak benar,” terangnya.

“Kita sedang meneliti ini siapa yang membuat kesalahan, kita sedang melakukan investigasi,” imbuh Amin.

Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Kemendikbud Teuku Ramli Zakaria mengatakan proses tender terhadap perusahaan sudah sesuai peraturan perundangan. PT Ghalia pun dinilai memenuhi syarat menjadi perusahaan pelaksanaan pengadaan naskah soal UN.

“PT Ghalia itu secara fisik dan dokumen yang diserahkan kepada kami saat proses tender sangat memenuhi syarat untuk menjadi perusahaan pencetak soal UN,” katanya.

Kemendikbud Siap Diaudit

Kemendikbud mendapat kritik banyak pihak akibat penundaan ini. Kemendikbud pun bersedia jika anggaran program UN tahun ini diaudit.

“Kita bersedia, perintah Presiden khusus untuk keterlambatan ini, investigasi baik oleh internal melalui Inspektorat Jenderal Kemendikbud kemudian oleh BPKP dan BPK, soal audit selalu dilakukan terkait pengelolaan keuangan negara,” ujar Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim di sela-sela kunjungannya ke SMA 48 di Jakarta Timur, Selasa (16/4/2013).

“Kami membuka diri untuk investigasi siapa berbuat harus menanggung,” kata Musliar.

Musliar mengatakan melihat dari permasalahan UN tahun ini, bisa jadi pencetakan lembar soal dan jawaban akan diserahkan kepada setiap daerah. Namun ini masih perlu dievaluasi.(IRIB Indonesia/Detik)

Prof. Karel Sesa Terpilih Menjadi Rektor

Melalui mekanisme Rapat Senat Tertutup Rabu (10/4) Prof. Dr. Karel Sesa, MSi, terpilih menjadi Rektor Universitas Cenderawasih (Uncen) yang baru. Ini menandakan berakhirnya masa jabatan Drs. Festus Simbiak, M.Pd sebagai penjabat Rektor Uncen yang sebelumnya adalah Pembantu Rektor I bidang Akademik.

Prof. Dr. B. Kambuaya (mantan rektor) yang kini menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, usai memberikan hak suara pada pemilihan rektor melalui Rapat Senat Tertutup, berharap rektor terpilih bertanggung jawab dan bisa membawa perubahan secara kualitatif dalam lembaga perguruan tinggi negeri tertua di Papua ini.

Uncen bisa akan bisa maju, jika manajemennya menyingkirkan kepentingan pribadi dan kelompok dan mengutamakan kepentingan lembaga. Penjabat Rektor  yang menggantikan Bathazar Kambuaya, Festus Simbiak, menyampaikam hal yang hampir sama. Ia berharap rektor terpilih bisa menyelesaikan pekerjaan yang belum diselesaikan.

Prof Karel Sesa terpilih menjadi rektor setelah unggul suara dari dua calon lainnya. Karel meraih 24 suara, Dr Agustinus Fatem 14 suara dan Dr Kris Krisifu 10 suara. Sesa yang memenangi pemilihan, berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia Uncen, terutama tenaga pengajar. Ia mengatakan akan menjadwalkan penyiapan dosen strara dua di bawah usia 30 tahun untuk dilatih di daerah. Sedangkan di atas 30 tahun akan dikirim mengikuti pelatihan di luar negeri. Dengan begitu, para pengajar ini bisa mentransfer ilmu di fakultasnya. Karel juga memberikan perhatian pada bidang penelitian dan kerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi di luar Papua dan luar negeri. Salah satu rencananya adalah membentuk koperasi di setiap fakultas demi meningkatkan kesejahteraan sivitas akademika Uncen.

Beliau juga berencana menertibkan para dosen yang berkegiatan di luar kampus yang merugikan mahasiswa. Penertiban akan dilakukan sesuai peraturan dan sanksi yang diterbitkan kementerian pendidikan nasional.

5 Perguruan Tinggi Jadi Percontohan Kampus Hijau

TEMPO.CO, Surakarta – Kementerian Lingkungan Hidup menunjuk lima perguruan tinggi negeri menjadi percontohan pelaksanaan kampus hijau. Lima kampus itu adalah Universitas Pattimura Ambon, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Universitas Hasanuddin Makassar, Universitas Cendrawasih Jayapura, dan Universitas Diponegoro Semarang.

“Sementara lima kampus dulu. Lainnya bertahap mengikuti,” kata Menteri Lingkungan Hidup Balthasar Kambuaya seusai meresmikan UNS menjadi percontohan kampus hijau, Rabu, 6 Maret 2013. Dia meminta secara bertahap seluruh universitas di Indonesia juga menjadi kampus hijau.

Balthasar mengatakan, tujuan pelaksanaan kampus hijau untuk mengintegrasikan tridarma perguruan tinggi dalam melestarikan dan melindungi lingkungan hidup. Kampus hijau yang sudah terbentuk akan menjadi pusat kegiatan dan pemberdayaan pemangku kepentingan untuk mencegah pencemaran dan kerusakan lingkungan.

Asisten Deputi Bidang Peningkatan Peran Lembaga Masyarakat Kementerian Lingkungan Hidup, Dodo Sambodo, mengatakan, kelima universitas percontohan kampus hijau itu akan dipantau selama setahun ke depan. Tiap universitas diharapkan membuat program bertema ramah lingkungan. “Mana yang paling bagus, akan kami beri penghargaan,” katanya.

Rektor UNS Surakarta Ravik Karsidi mengatakan, tahun ini akan menanam sekitar 5.000 pohon di beberapa lokasi di kampus. Dia juga akan menghibahkan lahan seluas 1 hektare untuk dijadikan ruang terbuka hijau milik pemerintah Surakarta.

“Kami berupaya menjaga kelestarian dan ekosistem. Misalnya, dengan melarang siapa pun dan dengan cara apa pun menangkap ikan dan burung yang ada di area kampus,” katanya.

UKKY PRIMARTANTYO

Sumber: Tempo.co