Kongres Perhimpunan Mahasiswa Indonesia Amerika Serikat (PERMIAS) 2017

Washington DC 6 September 2017. Kongres PERMIAS dihadiri oleh 10 PERMIAS cabang, yakni PERMIAS Colorado, PERMIAS California, PERMIAS Georgia, PERMIAS Nebraska, PERMIAS Los Angeles, PERMIAS Phoenix, PERMIAS Portand, PERMIAS Miami, PERMIAS Minnesota, PERMIAS Davis.  Acara kongres meliputi (i) Talk Show yang terbuka untuk umum bertema “Conquering Indonesia 2030” pada tanggal 2 September 2017 di Hotel Omni SF, sedang pada tanggal 3 September 2017 acaranya meliputi (ii) Focus Group Discussion (FGD) PERMIAS, dan (iii) Kongres bertempat di Wisma Indonesia SF. Acara Talk Show dikuti oleh peserta kongres dan sekitar 150 mahasiswa Indonesia di SF, sedang FGD diikuti sekiar 50 peserta (delegasi kongres dan pengurus PERMIAS SF).
Talk Show menghadirkan dua pembicara tamu, yakni Yansen Kamto (pendiri dan penggagas Kibar Innovative Academy dan 1000 StartUpDigital) dan Vidi Aldiano (pendiri VA Records, Vidivinivici). Yansen menceritakan berbagai perkembangan start up di Indonesia dan juga peluang bekerjasama dengan Kibar. Yansen selalu menekankan pentingnya memiliki visi membantu bangsa Indonesia dan masyarakat yang membutuhkan. Yansen tidak lupa mengundang pulang mahasiswa bila telah selesai studi, karena masalah di Indonesia tidak mungkin dipahami dan diselesaikan oleh bangsa lain. Yansen juga meyakini bahwa dengan keterlibatan aktif ini, berbagai masalah yang masih menjadi tantangan di Indonesia akan sedikit-sedikit terpecahkan. Vidi Aldiano menceritakan bagaimana perjuangan musisi muda yang menawarkan album di zaman musisi harus bernaung di bawah label besar hingga ia dapat memiliki label sendiri. Industri musik saat ini dengan adanya internet berubah drastis dan insan kreatif dengan mudah menyebarkan karyanya. Vidi berbekal kepeduliannya kini merambah industri makanan dan juga crowd sourcing.
232
FGD dan Kongres dibuka Konjen RI SF, Bapak Ardi Hermawan, yang dalam sambutannya menyampaikan berbagai peluang dan tantangan pemanfaatan teknologi informasi di Indonesia. Bapak Konjen menekankan juga pentingnya para mahasiswa mempunyai kepedulian pada berbagai masalah di Indonesia dan memberikan solusi yang mungkin dilakukan oleh PERMIAS. Pak Ardi juga menyampaikan pentingnya membina persatuan internal dan antar PERMIAS cabang dalam wadah PERMIAS Nasional, pentingnya PERMIAS-PERMIAS Cabang bekerjasama dengan KBRI/KJRI untuk membantu rekan-rekan mahasiswa, terutama yang dari Papua, dan pentingnya Kongres mengevaluasi dan merencanakan kegiatan PERMIAS yang lebih baik kualiasnya. Atdikbud DC, Ismunandar, menambahkan pentingnya PERMIAS dan mahasiswa yang belajar di luar negeri meneruskan kiprah pendiri Perhimpunan Indonesia di Belanda dulu yang berjuang dari luar negeri untuk kemerdekaan Indonesia, kalau dulu kemerdekaan dari penjajah kini kemerdekaan dari berbagai masalah bangsa. Ismunandar lebih lanjut menyampaikan pentingnya PERMIAS berbagi kegiatan dan narasumber (baik melalui kunjungan nara sumber atau melalui jaringan internet) dan pentingnya PERMIAS membuat katalog kegiatan, terutama kegiatan promosi budaya Indonesia.
Dalam FGD didiskusikan berbagai program PERMIAS Nasional pengurus 2017-2018, yang antaralain direkomendasikan oleh peserta FGD untuk berfokus pada:
a. Membuat program di bidang pendidikan yang lebih efektif dan nyata, misalnya membantu pelajar yang berminat melanjutkan ke AS.
b. Membantu mahasiswa asal Papua dengan membuat program online yang memberikan gambaran dan cara untuk berinteraksi dengan rekan pelajar di AS.
c. Membuat database yang dapat digunakan untuk networking bagi seluruh anggota.
d. Mengumpulkan informasi-informasi yang dipublikasikan oleh PERMIAS Nasional untuk disebarluaskan oleh PERMIAS cabang untuk memberikan informasi langsung ke anggota-anggota, dan sebaliknya dari PERMIAS Cabang ke PERMIAS Nasional untuk mengkatalogkan kegiatan PERMIAS cabang.
e. Membuat berbagai produk-produk digital yang lebih informatif dan interaktif untuk memperkenalkan PERMIAS di Indonesia.
f. Menjalin kontak dengan alumni PERMIAS.
Acara Kongres meliputi pembahasan perubahan Anggaran Dasar (AD), Laporan Pertanggungjawaban Pengurus PERMIAS 2015-2017, dan Penetapan Ketua Umum PERMIAS 2017-2018. Perubahan penting AD PERMIAS adalah perubahan nama pimpinan PERMIAS PUSAT dari Sekretaris Jenderal menjadi Ketua Umum dan lama kepengurusan dari dua tahun menjadi satu tahun. Dalam Laporan Pertanggungjawabannya (LPJ) Sekretaris Jenderal PERMIAS 2015-2017, Nadi Guna Khairi, antaralain menyampaikan bahwa kemajuan penting PERMIAS adalah kini telah terdaftar sebagai organisasi non profit di AS, berbagai program menjadi lebih rutin (penerbitan majalah, penyelenggaraan PERMIAS CUP, dll). LPJ ini diterima oleh Kongres.Kongres menetapkan Aufa Amirullah sebagai Ketua Umum PERMIAS 2017-2018. Selamat kepada Aufa dan Pengurus PERMIAS yang baru.
12312


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

RS Terapung ’Ksatria Airlangga’ Dilayarkan Perdana dari Makassar Menuju Surabaya

PIH UNAIR – Alumni Universitas Airlangga mengukir sejarah baru. Selangkah lagi, kapal medis Rumah Sakit Terapung (RST) “Ksatria Airlangga” akan melayani kesehatan masyarakat di pulau-pulau terluar dan terpencil.

Sebuah kapal pinisi sepanjang 27 meter dan lebar 7,2 meter itu, yang dibangun di sebuah galangan pinisi di Kecamatan Galesong, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Sabtu (9/9) pagi sudah resmi dilayarkan menuju Kota Surabaya. Di sebuah dermaga di kawasan Tanjung Perak, Surabaya, di sanalah kemudian kapal akan dilengkapi dengan peralatan medisnya.

“Mohon doa restunya, pada pagi hari ini (Sabtu, 9/9) RS Terapung Ksatria Airlangga akan diluncurkan berlayar dari Makassar ke Surabaya. Semoga pelayaran berjalan dengan lancar untuk menunjukkan bakti Alumni kepada Universitas Airlangga,” tulis Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes., Pengurus Yayasan Ksatria Medika Airlangga, sebuah yayasan yang akan mengelola RS Terapung “Ksatria Airlangga”. Di kapal itu juga tampak Herni Suprapti, bendahara yayasan Ksatria Medika Airlangga.

Koordinator Staf Dekanat Fakultas Kedokteran UNAIR itu, berada di Galesong, Takalar, mengikuti peluncuran perdana kapal RS Terapung yang awalnya diinisiasi oleh sejawat dokter alumni FK UNAIR. Kapal diluncurkan dari sebuah dermaga di Galesong, setelah sekitar satu bulan dilakukan uji coba layar di perairan sekitar kawasan produksi kapal khas Bugis itu. Seperti dirancang pada awalnya, RS Terapung ini akan menelan biaya sekitar Rp 5 milyar, separuh lebih merupakan biaya pembuatan kapalnya.

Gadis membenarkan bahwa alumni UNAIR hendaknya berbangga karena berhasil membangun RS Terapung “Ksatria Airlangga” hingga selesai. Selain itu, katanya, ini merupakan RS Terapung pertama di dunia yang dimiliki oleh alumni perguruan tinggi yang akan digunakan untuk membaktikan diri pada pelayanan kesehatan masyarakat di daerah-daerah terpencil di kepulauan Indonesia.

Ikhwal uji coba dan peluncuran ini juga dibenarkan oleh penggagas ide RS Terapung dokter spesialis bedah Agus Hariyanto yang juga alumnus FK UNAIR. Ia yang berdinas di kawasan kepulauan di Maluku Utara itu rajin menengok proses pembuatan kapal ini ke Makassar. Dalam perlayaran perdana menuju Surabaya ini pun, dokter spesialis bedah itu juga terlihat ada di geladak kapal itu bersama para aparat keamanan setempat.

“Saya tidak berani memberi perkiraan berapa lama dan kapan sampai di Surabaya, nanti saja saya kabari,” kata Agus Hariyanto, alumnus Program Pendidikan Dokter Spesialis FK UNAIR tahun 2006 ini.

Sebelum ini, Agus Harianto juga mengabarkan sedang menyusun rancangan program pelayaran kapal RST ini untuk sepanjang tahun 2018. “UNAIR Goes to Island,” tulisnya.

Ia berharap selain pelayanan kesehatan, juga hendaknya sekaligus dimanfaatkan untuk bikin observasi penelitian dengan tujuan pengumpulan data kesehatan maritim di pulau-pulau di Provinsi Jawa Timur.

“Saya kira ini sangat terbuka bagi adik-adik peneliti untuk bergabung mengerjakan riset itu, atau bikin riset sendiri dengan mengikuti pelayaran kapal RS Terapung ini,” tambahnya. (PIH UNAIR)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Nogogeni ITS Siapkan Inovasi Baru di KMHE 2017

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya kembali menjadi tuan rumah kompetisi bergengsi Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE) 2017. Salah satu tim unggulan, Nogogeni ITS pun tak lepas dari inovasi dalam menghadapi kompetisi yang digelar selama lima hari 7 – 12 November mendatang di Kenjeran Park, Surabaya.
Untuk menyelesaikan mobil, tim Nogogeni memerlukan waktu lima bulan. “Tahun ini agak berbeda karena kami mengirimkan dua mobil dengan kategori Urban Listrik dan Urban Ethanol. Dulunya untuk Urban Ethanol bernama Basudewo,” tutur M Adietya, manajer umum Nogogeni.
Dalam memaksimalkan KMHE 2017, tim melakukan beberapa inovasi yaitu pada mobil urban listrik dibuat body berkoefisien drag lebih kecil sehingga dapat meminimalisir gesekan, menambahkan sistem transmisi pada sasis dan melakukan riset pembuatan kontroler untuk sistem kelistrikan.
Sedangkan pada kategori urban etanol menambahkan Engine Control Unit (ECU) progammable, yang bertujuan untuk meningkatkan performa mesin. “Pada tahun ini memang tim kami melakukan perubahan yang cukup banyak, karena itu merupakan evaluasi di tahun sebelumnya. Semoga efisiensinya dapat mencapai 150 kilometer per kilowatt-hour untuk mobil listrik dan 200 kilometer per liter untuk mobil ethanol,” tutur Adiet
Pria kelahiran Gresik ini menambahkan, kendala yang dialami adalah pada tempat test drive. “Biasanya mobil diuji di jalan raya Galaxy Mall pada dini hari, agak beresiko karena masih ada kendaraan berlalulalang. Tapi masih belum ada alternatif tempat,” keluhnya.
“Harapannya, semua persiapan agenda ini berjalan lancar dan manfaat bagi pertumbuhan hasil inovasi mahasiswa di Indonesia”, ungkapnya. (Humas ITS)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Wakil Presiden RI Tekankan Pemajuan Iptek dan Inovasi di Negara OKI untuk Kepentingan Umat Manusia

Penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi merupakan suatu keharusan bagi seluruh negara anggota Organisasi Kerjasama Islam/OKI agar dapat menghadapi berbagai tantangan global, antara lain: pengentasan kemiskinan, penanggulangan penyakit, kekurangan pangan, krisis energi serta air, dan lain lain.

Hal tersebut disampaikan oleh Wapres RI pada saat menyampaikan pernyataan Pemerintah Indonesia pada Konperensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerjasama Islam Pertama mengenai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (1st OIC Summit on Science, Technology and Innovation), yang berlangsung di Astana, Kazakhstan, tanggal 10 September 2017.

Wapres RI menekankan pentingnya menciptakan kerjasama erat antar center of excellence bidang iptek dan inovasi yang saling terintegrasi di antara negara OKI untuk berbagi hasil kegiatan riset dan pengembangan bidang iptek tersebut.

Indonesia juga mendorong seluruh negara OKI terus mengembangkan Iptek dan Inovasi yang perlu dimulai sejak pendidikan dasar dan juga disertai dengan penguatan kurikulum iptek dan pengembangan budaya iptek (science culture) sejak usia dini. Selain itu, seluruh negara OKI harus terus mengarustamakan (mainstreaming) iptek dan inovasi di dalam kebijakan dan strategi nasionalnya masing-masing.

Lebih lanjut, Wapres RI menyerukan agar seluruh negara anggota OKI memperkuat kerjasama saling berbagi pengalaman, baik antar negara OKI maupun dengan negara lain serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Wapres RI menutup sambutannya dengan penekanan khusus bahwa seluruh negara OKI perlu kembali memajukan peran Islam dalam pengembangan aspek iptek dan inovasi untuk kesejahteraan umat manusia secara keseluruhan. Hal ini merupakan realiasi nyata dari nilai utama Islam sebagai Rahmatan lil Alamiin.

KTT OKI mengenai Iptek merupakan KTT tematik pertama di bawah kerangka forum kerjasama OKI. Tema KTT ini adalah “Science, Technology, Innovation and Modernization of the Muslim World”. KTT diselenggarakan atas kesepakatan seluruh negara OKI pada berbagai pertemuan KTT OKI, termasuk KTT OKI terakhir yang diselenggarakan di Istanbul pada bulan April 2016. Seluruh 56 negara anggota OKI telah berpartisipasi pada rangkaian pertemuan KTT OKI Iptek ini.

Tercatat sekitar 20 Kepala Negara/Pemerintah, Raja, dan Wakil Presiden dari negara OKI telah hadir pada KTT OKI ini, termasuk Presiden Turki selaku Ketua OKI periode 2016-2019, dan Presiden Pakistan selaku Ketua Standing Committee OKI mengenai Iptek/COMSTECH.

Pada akhir KTT, diharapkan seluruh Kepala Negara/Wakil Kepala Negara akan mengesahkan beberapa dokumen akhir, yaitu dokumen OIC Science, Technology and Innovation 2026 serta Astana Declaration. Dokumen OIC STI 2026 pada intinya merupakan road map Iptek negara-negara OKI untuk periode 2017-2026; sedangkan Astana Declaration berisi pernyataan bersama seluruh Kepala Negara/Wakil Kepala Negara OKI mengenai hal-hal utama mengenai pengembangan iptek di negara OKI bagi kepentingan seluruh umat manusia.

Delegasi RI pada KTT dipimpin oleh Wapres RI dan didampingi oleh Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Menristekdikti, Wakapolri, Dubes RI Astana (Rahmat Pramono) serta para pejabat tinggi dari berbagai Kementerian/Lembaga Pemerintah RI terkait, khususnya pejabat di lingkungan Kemlu RI serta Kemenristekdikti.

Wapres RI juga melakukan beberapa pertemuan bilateral di sela-sela pertemuan KTT, antara lain dengan Presiden Kazakhstan, Nursultan Nazarbayev, Perdana Menteri Kazakhstan, Bakytzhtan Sagintayev, dan Ketua Senat Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, dan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, yang hadir selaku tamu khusus KTT OKI ini.

Astana, 10 September 2017


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

Pintar Berbisnis, Mahasiswa UNAIR Jadi Penata Rias Hingga Kelola “Rawon Nguling”

PIH UNAIR – Menyadari masih memiliki usia produktif, Raiza Aulia mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Airlangga gemar mengasah kemampuannya dengan belajar hal-hal baru. Saat ini, selain menjalankan bisnis penata rias, Raiza ikut mengelola usaha rawon milik kedua orangtuanya.

Sejak duduk di bangku kuliah, Raiza sudah memiliki jiwa bisnis yang kuat. Sedikit demi sedikit ia kumpulkan uang saku yang didapat untuk kursus make-up dan membeli beberapa peralatan make-up.

Dari belajar make-up itulah ia sering mengaplikasikan ilmu ke beberapa teman dekat. Hasilnya, ia jadikan portofolio dan dipamerkan di media sosial. Tak ayal, dari portofolio tersebut kini Raiza sering menerima job make-up untuk wisuda hingga pra pernikahan.

Setelah beberapa kali mendapat upah dari jasa make-up, mahasiswa semester tujuh itu memutar otak untuk mencoba bisnis lain. Ia menggunakan upah dari hasil jasa make-up untuk menjajal peruntungan dengan berjualan kerudung dan kaos kaki.

“Awalnya kalau promosi ya dari mulut ke mulut, pokoknya teman dekat dulu, lalu media sosial. Yang paling penting adalah niat dan kemauan untuk usaha,” jelasnya.

Dari bisnis jasa make-up dan berjualan kerudung yang ia rintis, Raiza mulai bisa mengatur keuangan sendiri tanpa bergantung pada orang tua.

“Meskipun hasilnya ngga banyak, tapi alhamdulillah bisa beli buat kebutuhan sendiri,” ujarnya.

Ikut kelola “Rawon Nguling”

Selain bisnis jasa tata rias dan berjualan, cucu dari pendiri usaha kuliner ternama “Rawon Nguling” ini ikut menjalankan usaha yang kini dijalankan kedua orangtuanya. Meskipun ada kemungkinan ia bakal mewarisi bisnis orangtua, namun tak semata-mata bisnis itu ia jadikan sebagai “sandaran jati” akan kehidupannya mendatang.

“Saya tidak mau hanya karena saya cucu pemilik “Rawon Nguling” lalu saya bisa bermalas-malasan nunggu warisan,” ujarnya sambil tertawa.

Ditanya mengenai keikutsertaan Raiza dalam mengelola bisnis “Rawon Nguling”, ia mengaku bahwa kini dirinya sudah mulai menjajaki proses pengelolaan restoran untuk membuka cabang di Surabaya dan Jawa Timur. Kedua orang tuanya pun mulai mempercayakan beberapa kepentingan restoran kepadanya, mulai marketing, pembayaran pajak restoran, hingga urusan sumber daya manusia.

“Ibu dan ayah saya juga semakin tua, usaha ini pasti menurun untuk saya ataupun kakak saya. Jadi saya harus mulai belajar dari sekarang,” ujar gadis yang lahir di Surabaya 22 tahun yang lalu itu.

Kendati demikian, Raiza tidak menganggap kepercayaan yang diberikan orang tuanya sebagai “warisan”, tetapi lebih kepada bagaimana ia harus bekerja menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan restorannya.

“Saya di sini bukan sebagai cucu sang pemilik, tetapi di sini saya bekerja, saya pesuruh, saya pergi ke pasar membeli bahan-bahan, saya juga ikut masak,” tuturnya.

Ilmu dari perkuliahan

Menjalankan usaha secara bersamaan tak lantas membuat Raiza meninggalkan perkuliahan. Menurut gadis yang juga memiliki hobi bermain piano dan menyanyi itu, ia banyak belajar dan mengaplikasikan ilmu psikologi yang ia dapat di bangku perkuliahan kepada pelanggan. Dari pelanggan inilah ia bisa mengerti karakter-karakter orang dan cara menghadapinya.

Kepada UNAIR News Raiza menuturkan, mengelola beberapa bisnis secara bersamaan tak selalu berjalan mulus. Dari bisnis yang ia jalani, Raiza juga sering mengalami hal-hal buruk seperti merugi dan ditipu oleh pelanggan. Namun hal tersebut tak membuatnya patah semangat untuk melanjutkan usahanya.

“Rugi pernah, ditipu orang juga pernah, dikomplain pelanggan juga sering. Namanya usaha nggak mungkin mulus terus. Tapi dari sana saya bisa belajar untuk lebih baik,” ungkapnya.

Raiza menyadari bahwa apa yang ia lakukan belum sepenuhnya sempurna. Ia masih terus belajar dari orang tua, saudara, dan lingkungan sekitarnya untuk merintis bisnis yang lebih baik. Ia juga berpesan kepada teman-temannya untuk menggunakan waktu muda secara produktif dan mencoba hal baru yang sesuai minat. Sebab menurutnya, passion yang ditekuni dapat menjadi bekal dikemudian hari.

“Meskipun nyoba jualan lalu hasilnya dikit, nggak apa-apa. Selagi masih muda jangan takut gagal, coba aja terus. Gagal coba lagi, gagal coba lagi, pokoknya sampai banyak yang bisa dipelajari nanti dibuat bekal keberhasilan,” ujarnya. (PIH UNAIR)


ShareDigg thisShare on FacebookShare on Google+Share on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponTweet about this on Twitter

« Older Entries Next Entries »